Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Diary. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Mei 2025 0 komentar

Tahun ini ....

Tahun ini, aku tidak berharap akan mengisi lembaran blog ini kembali, karena itu artinya aku dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Tahun ini, aku berkeinginan, berharap, memohon kepada Tuhan, agar keadaanku dipulihkan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya dengan lebih baik dari segala sisi.

Tahun ini, doaku tetap, lebih kencang, mungkin juga lebih deras. Aku memohonkan kesehatan dan damai sejahtera setiap pagi, saat aku bangun tidur. Aku mohonkan pekerjaan yang mengalir setiap hari. Aku mohonkan menang kontes desain dan foto setiap minggu. Aku mohonkan dapat payout setiap bulan dari semua akun stock. Aku mohonkan dapat rekan kerja yang fun, kreatif dan selalu inovatif. Aku mohonkan penyelesaian renovasi studio agar menjadi tempat yang nyaman untuk semua klien yang datang. Aku mohonkan untuk membeli 1 rumah lagi dan 1 mobil lagi. Dan terakhir, sebelum aku menutup mata .. aku mohonkan memperoleh sponsor untuk berkeliling Indonesia bersama satu-satunya pendamping hidupku, untuk memotret dan merasakan kuliner yang khas di setiap wilayah yang kami kunjungi. Itu saja yang aku selalu ucapkan dan aku bayangkan dan aku perkuat dan aku pintakan dan itu berulangkali.

Tahun ini, aku berharap akan menjadi awal yang baik untukku sekeluarga, terutama istri dan anakku, yang belum bisa aku bahagiakan.

Tahun ini, aku mulai bertambah sadar, bahwa pertolongan dari manusia adalah sia-sia dan lebih banyak transaksional. Karenanya aku selalu berusaha untuk tidak meminta tolong, kecuali kepada beberapa orang yang aku rasakan ketulusannya, bahkan kepada merekapun aku berusaha untuk tidak meminta tolong, sekecil apapun, agar tetap terjaga hubungan baik ini.

Tahun ini, aku merasakan penurunan kondisi fisik, tapi aku tak hendak menanyakannya lebih lanjut. Mungkin memang harus seperti ini, mungkin memang seperti ini. Kuusahakan untuk tetap berjalan, berlari dan bernafas, dengan sesekali melompat, hempis, berkelit, menyelam, mengangkat kaki, menusuk, menolak, menendang jika aku menginginkannya.

Tahun ini, aku akan meninggalkan angka 45. Dan aku masih menanyakan apa maksud angka tersebut. Tak berhenti berharap, meminta kebaikan.

Tahun ini, aku perjuangkan semua yang bisa aku lakukan untuk orang-orang yang sangat aku sayangi, minimal agar mereka akan selalu mengingatku dengan baik, semua yang baik, semua yang enak dipandang dan semua yang sedap didengarkan.

Tahun ini, aku merasa letih. Letih untuk berpikir panjang, beberapa langkah ke depan.

Tahun ini, aku berserah, pasrah, menyerah.

Tahun ini, aku ....



Semalam .. aku akan jadikan ini sebagai peringatan buat aku, untuk tidak berpangku tangan dan diam saja.

Senin, 01 April 2024 0 komentar

Nulis ahhhh

Sudah lama aku tidak menuangkan uneg-unegku disini. Entahlah kenapa .. apa karena aku sudah mulai bisa mencari jalan keluar dari setiap masalah, atau masalah itu aku anggap hanya sekedar lewat, atau sudah terlalu banyak yang aku hadapi dan aku mau menghadapinya dengan ringan saja, ndak mau berat-berat mikirinnya. Entahlah ..


Nah sekarang aku mau menulis, menulis tentang apa yang aku alami, secara acak saja. Sekedar refreshing otak dan melenturkan jari-jari tangan, meskipun keyboardku sudah mulai rewel heheheh. Biarlah, memang sudah lama keyboard dan monitor ini menemaniku.

Orang Samaria yang baik hati.
Aku punya saudara, yang sering aku bantu, berkaitan dengan talenta yang Tuhan berikan kepadaku. Dan aku tidak pernah meminta sepeserpun untuk hasil yang aku berikan kepadanya. Karena aku pikir, ya wis lah, ini saudara. Masak ya aku mau hitungan banget. Ndak mau ah.
Eh, ndilalah .. pas aku butuh bantuannya yang berkaitan dengan talenta yang dia miliki, .. dihitung sob. Dihitung dengan detail lagi, .. bused dah .. itungan amat yak .. gile bener. Moga tengkurap lu .. hihihihi.

Akhirnya aku iseng cerita pada temanku jauh. Yang sudah lama ndak ketemu. Tiba-tiba datang ke rumah, setelah aku cerita, dia menawarkan bantuannya, tanpa mau meminta bayaran, balasan, dan tetek bengek ribet lainnya. Gile .. gile bener ... aku ga tau deh mau ngomong apa. Semoga usahamu semakin berkembang teman. Kamu benar-benar kayak orang Samaria yang baik hati, yang mau menolong orang lain, orang jauh, bukan saudara. 
Lha kemarin yang bilangnya sodara, .. malah hitungan dan pergi. 1 kata, gile.


Saudara yang perlu diwaspadai.
Ada yang tiba-tiba menawarkan bantuan, tanpa diminta. Eh kemudian pamrihnya, lebih panjang dari bantuan yang ditawarkan, hihihihi, sudah kecium kedokmu ... dari dulu kamu seperti itu. Kagak mau rugi, kalau menolong pasti ada kalkulasinya dan kamu ga pernah mau rugi. Ya, semoga tengkurap deh lu ... hihihihi. Jadi aku harus selalu waspada sama kamu, karena kegilaan kamu dari jaman nenek moyang masih belum jadi seorang pelaut, hihihihihi.

Teman gila.
Kadang keliatan gila. Kadang keliatan ugal-ugalan, tapi jauh aku lihat dari matanya, dia baik. Hanya ke-cover saja, dan mungkin dia menyangkal atau menolaknya. Ya sudahlah, itu hak dia juga. Semoga dia tenang disana, dan suatu saat menjadi dirinya yang suangat buaaaikkk, tanpa ada drama dulu, hihihih. Yang drama cukup Korea saja lah. Eh, ... kok tenang disana ya, kayak sudah metong donk. Makdusku .. eh .. maksudku (tuh, pengaruh keyboard yang sulit dipencet ini) .. dia menjadi tenang setelah ini, disana .. di rumahnya. Aku doakan kamu ya, kamu dan seluruh keluargamu. Hihihihih. Tapi balasannya, .. masakin aku hihihihihi, dan belikan ak mobil .. wadidawwwwww. Nggak ah, aku mau beli sendiri habis ini, tunggu. Eh, tapi kalau yang tentang masakan, terusin saja .. gak papa kok, aku "nrimo" orangnya.


Ah sudah deh, ini dulu yang pengen tak tulis. Meskipun banyak lainnya .. tapi ini dulu deh.
Bye bye .. :)


Jumat, 09 November 2018 0 komentar

Hanya ingin menulis

Malam ini, aku hanya ingin menulis. Menulis sesuatu yang aku tidak sukai .. mungkin juga akan kutulis apa yang aku suka. Biarlah mengalir saja. Tanpa konsep, hanya apa yang ada di dalam pikiranku.

Aku tidak terlalu suka di undang ke pesta pernikahan. Mungkin malah hampir ke semua acara yang sifatnya, ... ngumpul, ... makan, ... ngobrol basa basi. Karena aku harus melakukan penyesuaian lagi, adaptasi lagi dan itu bukan hal yang menyenangkan buatku.
Terakhir aku datang ke pesta pernikahan, karena masih keluarga istri. Dan aku sempatkan untuk memotret juga. Namun aku tidak bisa membohoni diriku sendiri, bahwa aku kurang menyukainya. Apalagi saat aku melihat, banyak sisa makanan di atas piring, yang tidak dihabiskan oleh para undangan dan tamu. Untuk apa coba mereka ambil banyak-banyak. Kenapa tidak sedikit dulu, kalau nanti suka, ya ambil lagi. Kalau tidak suka, minimal tidak terbuang sia-sia.
Itu makanan yang tersisa, kalau dikumpulkan bisa untuk diberikan kepada beberapa orang yang benar-benar tidak mampu membeli makanan pesta. Meskipun belum tentu makanan pesta itu enak. Tapi apakah ada orang yang tidak mampu untuk beli makanan, akan menolak makanan, yang tidak enak sekalipun ? Aku rasa, mereka tetap akan senang menerimanya. Bukan seperti orang-orang yang dengan mudahnya membuang makanan yang menurut mereka kurang sesuai dengan selera mereka.

Jadi, jangan undang aku, ke semua acara basa basi. Cukup beritahukan aku, aku pasti akan mendoakan acaramu, kamu dan keluargamu, atau siapapun itulah, agar semua lancar dan diberi kebaikan.



Aku paling benci dibohongi. Dengan alasan apapun. Dengan cara apapun. Dalam bentuk apapun. Karena berbohong itu sama dengan pembunuhan pikiran orang lain. Dan orang yang pikirannya terbunuh, sama dengan orang yang sudah mati. Jadi aku samakan pembohong dengan pembunuh.
Apakah hari ini aku dibohongi ? Ya, oleh orang gak jelas, dengan tujuan yang menggelikan. Untuk melakukan ritual RT. Percaya deh sama aku, jaman sekarang orang sudah gak akan mau diribetin dengan hal-hal yang berbau birokrasi, basa basi dan segala hal identik dengan "mbuletisasi".
Ngapain harus repot-repot berbohong untuk sesuatu yang akan membuat kamu ditertawakan selamanya ? Bahkan bisa jadi kamu akan dianggap berbuat seenak jidatmu. Sudahkah kamu pikirkan konsekuensinya ?

Jadi, jangan libatkan aku dengan semua urusan yang berhubungan dengan birokrasi, basa basi busuk dan semua yang mbuletisasi. Komputer sudah diciptakan canggih, kok masih mau berhitung pake lidi. Whatsapp sudah diciptakan, kok masih ribet dengan ngumpul untuk buang waktu dan tenaga.



Aku kurang nyaman untuk bertemu dengan orang baru. Apalagi jika orang baru tersebut sok kenal, sok dekat dan sok sok-an minta ketemuan untuk membahas hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dibahas dengan bertatap muka. Kenapa ?
Sekali lagi, karena tehnologi sekarang sudah canggih. Aku bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, tanpa harus bertatap muka dengan kamu. Kamu cukup kirim pesan, jelaskan, kelar dah urusan.
Aku bukan lembaga birokrasi, yang harus runut dalam melakukan proses. Aku memang memiliki prosedur sendiri, namun kadang aku memilih untuk sedikit fleksible dalam melakukannya, sekali lagi, tanpa harus ketemuan.

Jadi, jangan ajak aku untuk ketemuan. Apalagi jika kamu sendiri tidak siap dengan bahan dan materi yang akan dibicarakan. "tiwas mbuang wektu". Kalau kamu sepakat bahwa Waktu adalah Uang, jadi hargailah waktu tersebut.



Aku suka bekerja, aku suka memikirkan tentang usahamu, aku suka memikirkan ide-ide apa yang bisa kita kerjakan bersama, untuk kemajuanmu, atau kemajuan bersama. Aku sangat suka. Aku bisa berlama-lama mencari. Sampai aku menemukan sesuatu yang membuatku puas. Dan tentu saja membuatmu juga puas.
Karena kepuasanku adalah kesukaanmu. Kepuasanmu adalah power tersendiri buatku.
Tapi tolong, jangan cepat memutuskan, iya atau tidak, bila kamu belum yakin.
Tapi tolong, respon cepatmu akau butuhkan, bila dari awal kamu memintaku untuk bergerak dengan cepat. Bagaimana aku bisa bergerak cepat, jika kamu tidak bisa cepat juga dalam merespon setiap pergerakanku ?


Jadi, jangan berani minta cepat, jika kamu sendiri tidak bisa cepat.
Rabu, 04 April 2018 0 komentar

Matur nuwun Gusti

Maret 2018, sekitar tanggal 8 atau 9 malam. Seorang teman mengirimkan aku 2 buah foto, sambil menuliskan pesan dalam WA-nya, "Doamu manjur".

Terkejut, seneng, kudu nangis, tapi yang keluar malangan-e "jancok, seneng aku, matur nuwun Tuhan". Istriku yang saat itu berada di kamar pun bingung dan bertanya, "Ono opo pa ?". Dan aku bercerita panjang .... panjang sekali. Semuanya dimulai di tahun 2016. Matur nuwun Gusti. matur nuwun sanged. Sekarang aku hanya memohon Tuhan, berkenan memberikan kekuatan kepada temanku Diana sekeluarga.

Matur nuwun ya Dee, sudah berbagi kebahagiaanmu untuk kami, yang bukan siapa-siapa ini. sampai ketemu lagi. (perasaan durung tau ketemu se, hehehe)



Matur nuwun Gusti

Aku ndak ngerti ini maksudnya apa,
hihihihi. Tapi rasanya ini adalah
kabar baik. :)

Sabtu, 24 Desember 2016 0 komentar

24 Desember 2016



Hari ini, mungkin banyak umat Kristen, Kristiani, Nasrani, apapun itu sebutannya, sedang mengikuti ibadah malam Natal, di gereja mereka masing-masing. Dan kebiasaan dari dulu, gereja-gereja tersebut berhiaskan banyak pernak-pernik Natal, lampu, pohon cemara, dan apapun itu yang berkaitan dengan peringatan hari kelahiran Yesus. Nyanyian Natal, musik Natal, makanan Natal, melengkapi perayaan tersebut.

Dan di hari ini pula, aku duduk terdiam, setelah menyelesaikan 1 dari 4 gambar yang harus segera aku selesaikan minggu ini. Dengan rasa sakit di kepala sebelah kiri, aku mulai membayangkan dan mengingat-ingat kembali dari aku kecil hingga saat ini, seperti apa perayaan Natal dari tahun ke tahun aku lewati.

Saat aku masih kecil, aku menjadi pengamat ibadah perayaan Natal, aku melihat aksi panggung yang dilakukan oleh anak-anak yang usianya lebih tua dari aku. Mereka menari, menyanyi, menyemarakkan perayaan Natal di gereja.
Saat aku duduk di bangku SD, aku mulai diikut sertakan oleh orang tuaku, menjadi bagian dari aksi panggung untuk memeriahkan perayaan Natal. Kali ini aku menjadi pemain yang dinikmati oleh orang lain, tapi mereka tidak tahu bagaimana ketegangan demi ketegangan yang kami alami untuk mempersiapkan aksi panggung ini. Aksi panggung yang akan mereka nikmati.
Saat aku mulai beranjak remaja, aku mulai ikut dalam aktifitas persiapan aksi panggung. Ketegangan demi ketegangan muncul kembali. Bukan hanya dirasakan olehku, namun juga oleh teman-temanku, karena mereka hanya ingin ibadahnya sukses, acaranya bagus, panggungnya indah, agar bisa dipergunakan oleh adik-adik remaja dan dinikmati oleh orang-orang tua.
Saat aku mulai menjadi orang tua, aku menikmati semua yang mereka suguhkan. Aksi panggung, acaranya, ibadahnya. Semuanya berjalan dengan baik menurutku, tanpa aku sedikitpun tahu, ada kesulitan apa dibalik semua ini.


Saat aku masih kecil, aku diberi kado oleh saudara-saudaraku yang lain, mulai dari jajanan sampai baju, sebagai hadiah Natal dari mereka. Aku sangat senang melihat banyaknya makanan dan hadiah dari mereka.
Saat aku duduk di bangku SD, hadiah-hadiah tersebut masih ada, namun makanannya mulai berkurang, karena mendahulukan tamu-tamu yang banyak sekali berdatangan ke rumah. Tamu-tamu tampak senang dengan banyaknya makanan yang disuguhkan.
Saat aku mulai beranjak remaja, hadiah-hadiah itu sudah tidak ada lagi. Jajanan-jajanan di masa kecilku pun juga sudah mulai berkurang, entah kenapa.
Saat aku mulai menjadi orang tua, aku menjadi tahu, bahwa apa yang aku alami saat masih kecil, hanyalah sebagian dari tradisi turun temurun, dan bahkan tidak memiliki arti yang lebih dalam, jika aku melihat topeng-topeng yang dikenakan oleh orang-orang disekitarku. Karena setelah hari ini, mereka melalui hari-harinya dengan topeng yang sama.


Saat ini, aku hanya menghela napas panjang, panjang sekali. Aku merenungi kebosananku dengan segala macam perayaan, dengan segala macam hidangan, dengan segala macam tawa dan canda yang berlindung di balik topeng. Hari ini, aku putuskan untuk tidak merayakan Natal di gereja. Aku hanya ingin diam di rumah, dan memikirkan mereka yang tidak bisa merayakan Natal seperti yang dilakukan kebanyakan orang.
Mungkin mereka tidak bisa merayakan Natal, karena sakit, karena tangannya tertancap jarum, karena mereka harus mencari sesuap nasi malam ini untuk orang-orang yang mereka kasihi, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk merayakan Natal, bahkan meskipun hanya untuk menyanyikan lagu Natal di dalam kamar mandi mereka.

Ya Tuhanku, Yesus, yang hari ini sebagian pengikutMu dan orang yang percaya kepadaMu merayakan hari kelahiranMu, hamba teteskan air mata dalam tangkupan tangan hamba, mohon temani mereka yang tidak bisa merayakannya, mohon agar mereka bisa merasakan setitik saja kebahagiaan, mohon agar mereka bisa merasakan hadirMu, bahkan meskipun mereka saat ini sedang berada di tempat pengap dan tak bercahaya. Mereka anak-anakMu Tuhan, mereka orang-orang yang percaya kepadaMu dan menaruh semua harapan mereka kepadaMu. Hamba mohonkan kepadaMu.
Jadikan kami yang sedikit lebih beruntung ini, kepanjangan tanganMu untuk membahagiakan mereka, walaupun hanya untuk beberapa menit. Gerakanlah hati kami yang sedikit lebih beruntung ini, karena bisa berpakaian bagus, bisa beralaskan kaki, yang saat ini sedang menikmati ibadah perayaan Natal untuk membagikan kebahagiaan kepada mereka yang kesulitan. Hamba mohon kepadaMu.




Kamis, 03 November 2016 0 komentar

Bahagia itu Sederhana (2)



Lampu mati, ... membuat beberapa pekerjaanku menjadi terhenti. Yang seharusnya melakukan rendering, desain exterior dan tracing beberapa gambar dan stiker motor, tidak bisa aku lakukan. Yah, sudahlah. Mungkin memang aku harus jalan-jalan dulu keluar. Bersama istri, aku menuju warung bakso dan mie ayam solo, tak jauh dari tempat tinggalku. Sambil ngobrol santai dengan bapak penjualnya, aku lewati malam ini. Setelah selesai makan, aku ajak istriku untuk "nyelonong" ke tempat antah berantah, tidak tahu tujuannya, yang penting jalan saja, sambil mencari jalur tembusan baru.

Sekitar 15 menit kami menyusuri jalan yang penuh lubang, pandangan mataku melihat sesuatu yang menarik dan telingaku tergelitik untuk mendengarkan lebih lama, aku berhenti dan duduk di atas motor, sambil menikmati suasana pasar malam. Pasar malam yang sekarang amat sangat jarang sekali. Pasar malam yang tidak mungkin dinikmati penduduk kota, hanya penduduk desa sepertiku saja yang kadang masih bisa menikmatinya. Tak terasa, beberapa kali kami berdua tertawa terbahak-bahak. Tawa yang senang, tawa yang ringan dan ini menjadi kebahagiaanku yang sederhana jilid 2, hanya karena melihat ulah Kartolo CS. Grup lawak yang sudah sangat lama sekali, dari daerah Jawa Timur. Entah tahun berapa, aku terakhir bertemu dengan mereka. Yang aku ingat, saat itu aku menghadiri undangan dari kantor JTV di Surabaya dan berkesempatan bertemu mereka.

Saat ini, tidak ada hal lain yang mengganggu pikiranku, tidak ada hal lain yang membuatku kuatir, tidak ada hal lain yang mengusikku, semuanya menyenangkan. Enteng sekali. Sesederhana itu bahagia. Sederhana seperti penduduk desa yang menikmati tawa bersama dengan suguhan layar tancap, ditemani kopi dan jagung bakar.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini.







Semoga bangsaku, bisa merasakan kebahagiaan yang paling sederhana. Ndak ngeributin penistaan agama, ndak ngeributin pajak, ndak ngeributin pilkada, ndak ngeributin politik, ndak ngeributin Jessica, ndak ngeributin orang lain yang berbeda ... hanya duduk diam, mengucap syukur untuk semua hal sederhana yang kita alami hari ini, setiap hari, selamanya.
Kamis, 18 Agustus 2016 0 komentar

17 Agustus .. lagi

"What, apa, kok bisa si Tukiyem jadi pengibar bendera ? Bukannya kita saja dulu mengajari dia susah sekali ?, terus kakak sendiri kenapa kok tidak pernah kepilih masuk di tim ?", tanya si Badu kepada Kak Roni. Kak Roni menjawab sambil menghela napas panjang, panjangggggggg sekali, "Yah, masuk di tim itu penilaiannya nggak obyektif, subyektif banged dan seperti main feeling untuk melihat orang-orang yang ingin dipilih". "Lihat itu si Mintul", lanjut Kak Roni. "Dia bisa masuk di pasukan 8, keren sekali kan. Sedangkan si Daryo cuma di pasukan 45".
Dan si Badu dengan Kak Roni terlibat percakapan yang sudah tidak bisa aku dengarkan lagi, karena aku sedang melihat dengan seksama dan dalam tempo yang lama, seorang bule dengan hidung yang sangat amat mancung banget hehehehe.
Meskipun otakku sempat memikirkan omongan mereka. Dan otakku mulai membuat medan tempurnya sendiri. "Ngapain lu repot amat mikirin si Tukiyem, si Mintul dan si Daryo, itu kan rejeki mereka bisa berdiri tegak, berbaris rapi menjadi tim pengibar bendera. Kalau lu ga bisa masuk, ya sudah belum rejeki lu. Lu pikirin saja sekarang, bagaimana bikin bendera Indonesia itu bisa berkibar di luar negeri dan lu terlibat di dalamnya, itu kan lebih keren bro. Lah kalau sekarang lu ga ngapa-ngapain, malah ribet ngomongin mereka yang sudah maju duluan, kapan lu bisa maju juga bro. Ayo bro, buang rasa iri, dengki dll dll, ganti dengan semangat untuk berpretasi di bidang lain. Tuhan kagak tidur bro".


Hari ini, sekali lagi aku menceburkan diriku di tengah kerumunan manusia, yang ingin menyaksikan detik-detik Proklamasi dan pengibaran bendera di Kantor Balaikota. Meskipun tidak ada suguhan atraksi yang menarik seperti tahun lalu, namun upacara ini tetap membawa kesan tersendiri untukku. Terlebih lagi saat aku menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bener-bener keren. Bahkan banyak orang di depanku yang sigap memberikan penghormatan saat bendera mulai dikibarkan, mulai anak-anak hingga orang-orang tua. Keren sekali.

Berikut foto-foto yang berhasil aku jepret saat itu.


Semua berjubel, semua memberi hormat kepada Sang Merah Putih

Ndak peduli, anak-anak ataupun orang tua

Ahhh, hidungmu mengalihkan duniaku, wakakaka :p

Beda kan .. maksudku warnanya :p

Semangat pak, ... :)
Foto tambahan, aku ikutan lomba .. picture taken by Daniel


Senin, 18 Juli 2016 0 komentar

Catatan Sekilas Bulan Juli

Ini hanya sekedar catatan sekilas, apa yang sekilas terlihat, apa yang sekilas terjadi, apa yang sekilas aku alami dan apapun yang sifatnya sekilas. :)

Bulan puasa, bulan menahan emosi, menahan lapar, menahan haus telat lewat. Aktifitas kembali seperti semula. Bahkan di awal perayaan kemenangan pun, aku sudah melihat aktifitas rutin yang tidak bisa dilakukan saat bulan puasa, yaitu ... marah :). Bahkan 1 minggu setelah hari raya Idul Fitri, teriakan dan bentakan kembali terjadi, aku jadi kangen masa-masa di bulan puasa, masa yang tenang dan masa dimana semua orang bisa menahan diri. Kangen sekali.

Di bulan ini pula, kasus i-doser yang sudah puluhan abad lalu dibahas, kembali mencuat. Oalah. Yang mencuatkan juga orang-orang di keluarga papa-ku, dalam grup WA. Pengalamanku mengatakan,
Selasa, 05 Juli 2016 0 komentar

Mungkin khan ..

Hari ini untuk kesekian kalinya, aku ingin menumpahkan uneg-unegku, pikiranku sendiri, atas banyak hal yang terjadi hingga aku menyempatkan diri untuk menulis kembali. Uneg-unegku masih seputar keruwetan manusia di sekitarku, manusia yang menyebut dirinya pengikut Kristus, dalam bahasa mudahnya ... orang Kristen. Aku mulai ya ....

1. Aku teringat ada kejadian yang "menimpa" salah seorang temanku, yang ingin menikah secara Kristen, dan oleh pendeta pasangannya, diarahkan untuk menikah di salah satu gereja di Malang, karena domisili temanku yang berada di Kota Malang juga. Mamanya, yang adalah kawan istriku berkata, bahwa anak dan calon suaminya "ditodong" untuk memberikan persembahan perpuluhan dari hasil kerjanya yang dijumlahkan selama 1 tahun. Jadi misal pendapatan dia 1 bulan 10 juta, maka dia harus memberikan pada hari sebelum pernikahannya sejumlah 1 juta x 12 bulan, jadi total 12 juta. Dan beberapa hari sebelum pernikahan Sang Pendeta menelpon dan mengingatkan untuk segera memberikan persembahan perpuluhan tersebut.

***
Logika-ku
Darimana asal "dalil" bahwa orang harus memberikan persembahan perpuluhan yang akan diperoleh dia untuk 1 tahun ke depan, sebagai persembahan sebelum pernikahannya.
Jumat, 25 Desember 2015 0 komentar

Sayang aku bukan Tuhan

Hanya karena engkau lupa, engkau menerima bentakan.
Hanya karena engkau bertanya, engkau menerima kata-kata keras.
Hanya karena sudah waktunya makan, engkau harus kaget dari tidurmu.
Hanya karena engkau merasa ada sesuatu yang tidak nyaman, engkau menerima perlakuan yang tidak sepatutnya.

Hanya karena dia capek, engkau harus menerima bentakan.
Hanya karena dia bosan harus menjawab pertanyaanmu, engkau menerima kata-kata keras.
Hanya karena dia harus mengatur waktunya agar semua serba teratur, engkau harus kaget dari tidurmu.
Hanya karena dia merasa semua baik-baik saja padamu, engkau menerima perlakuan yang tidak sepatutnya.


Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku ingin segera memanggilmu, untuk menemaniku.

Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku tahu segala yang engkau lakukan dari masa mudamu, masa saat engkau merawat anak-anakmu dan masa-masa disaat engkau sudah merasa cukup dan lelah.

Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku menyayangimu, sangat menyayangimu dan ingin engkau melepaskan semua beban yang tidak perlu lagi kau tanggung.

Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku ingin sekali menjungkir balikkan orang-orang yang bertopeng dan berkedok.
Karena aku ingin sekali menyobek mulut orang-orang yang tidak menyayangimu dengan tulus, dan melupakan bahwa dulu engkau tulus merawat mereka. Saat mereka merengek, saat mereka menangis, saat mereka sakit ... apapun suka duka yang mereka alami.
Karena aku pastikan untuk menampar mulut mereka yang membuatmu menjadi bahan lelucon.


Tuhan, ampuni aku yang ingin menjadi Engkau, walau untuk sedetik, hanya untuk mengambil orang yang kusayangi, hanya untuk menghancur leburkan orang-orang yang bertopeng. Ampuni aku.

Kini, aku hanya akan melihat. Tetesan apa yang akan keluar nanti saat orang yang kusayangi Kau panggil. Dan aku bersumpah, untuk pertama kalinya, ini akan jadi yang terakhir untuk mereka semua. Ini akan jadi yang terakhir.
Ampuni aku Tuhan, Mohon ampuni aku.
Rabu, 16 Desember 2015 0 komentar

Bahagia itu sederhana

Pagi ini aku sengaja meluangkan waktu untuk duduk di salah satu taman di kota Malang, tepatnya di daerah Jalan Malabar. Laptop setia menemaniku dengan pasangan modem sebagai teman hidupnya. Email satu per satu aku buka, beberapa pekerjaan telah selesai aku lakukan dan sekarang aku mulai browsing sambil celingukan ke kanan dan ke kiri. Tak terasa jalanan sudah mulai padat, matahari pukul 8 mulai mengusap kulitku, meskipun sedikit mendung, namun tak mengurangi keperkasaan sinarnya yang kuat.

Banyak orang mulai duduk-duduk santai, beberapa masih sibuk dengan aktifitas jalan ataupun berlari. Dan aku tetap asyik browsing sambil mendownload beberapa film kesukaanku. Lumayan untuk teman nanti saat senggang, pikirku.
Dream theatre aku putar untuk menambah semangat dan saat ini ... aku benar-benar merasa ... nikmat, enjoy, seneng, dan mungkin ini salah satu dari bentuk kata BAHAGIA.

Sesederhana ini. Sederhana seperti saat aku menikmati sepiring nasi panas, dengan tempe atau tahu atau ikan asin dengan sambal dan kerupuk sebagai pelengkap, ditutup dengan segelas air putih atau teh panas. Sesederhana itu. Perasaan ini terus berlanjut hingga aku putuskan untuk menuliskannya di halaman blog-ku.

Bahagia ternyata sederhana. Sehat, senyum, menikmati apa yang alam, Tuhan, sajikan di depan kita. Dengan berbagai cara yang bisa kita lakukan untuk melahapnya satu persatu. Senikmat makan nasi putih hangat, dengan tempe, ikan asin, sambal, kerupuk di tengah sawah yang sedang menguning. Wow. Mulai ngelantur nih .. hehehe.

Ok deh, aku sudahin dulu ya catatan bahagiaku pagi ini. Mulai banyak semut berguguran nih .. heheheh. Mereka juga mau mencari makan, mungkin nasi hangat, tempe, sambal dan kerupuk versi mereka, karena mereka juga mau berbahagia.

Semoga semua makhluk hidup, bisa hidup berdampingan dengan penuh kebahagiaan.

Selasa, 01 Desember 2015 0 komentar

Selamat jalan Ibunda Kristo


Senin, 30 November 2015 ... saatnya tanah menjadi pemisah antara keluarga dan ibunda tercinta untuk selamanya. Firasat ini muncul saat aku menjemput anakku, dan mengajaknya untuk lewat depan rumah Kristo. Lalu Dandy berkata, "bukannya rumah om Kristo di Langsep ?". Sesaat aku teringat ibunda Kristo, bagaimana kabar beliau, sehatkah, apakah masih sering berjalan kaki menuju gereja di pagi hari dan banyak pertanyaan lainnya. Rupanya itu adalah bagian dari cerita kehidupan,saat aku diberitahu bahwa Ibunda Kristo kembali ke Rumah Bapa dan akan dimakamkan pada hari Senin.

Ibu, selamat jalan ya. Saya selalu ingat bagaimana ibu menyapa saya, sambil berkomentar tentang rambut gondrong saya. Saya juga masih mengingat wajah ibu, yang pernah saya temui saat pagi-pagi berjalan menuju gereja di Langsep. Mungkin tidak banyak kenangan saya bersama ibu, tapi keramahan ibu sejak di jalan Coklat hingga pindah ke rumah Langsep itu yang selalu saya ingat.

Terima kasih ibu. Kristo dan keluarga .. maaf sekali lagi aku tidak bisa menghadiri acara pemakaman ibunda tercinta.

Tuhan Yesus menyertai
Rabu, 30 September 2015 0 komentar

September Ceria


Tulisan singkat dan sedikit ora niat di akhir bulan, hehehe :)


Penghujung bulan September kurang 8 jam lagi :), dan aku rasa ini adalah penghujung bulan yang sesuai dengan salah satu judul lagu yang dibawakan oleh Vina Panduwinata, "September Ceria".

Keceriaanku karena banyak hal, bukan hanya satu atau dua hal sepanjang hidupku hingga bulan September ini, namun benar-benar banyak hal yang tidak bisa aku tuliskan satu persatu di lembaran ini, hanya ucapan syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Allah yang aku cintai. Terima kasih :).

Banyak pelajaran hidup yang aku alami, banyak peran yang aku mainkan, banyak teman yang aku dapatkan, ada kesedihan dan ada pula kekecewaan, semua tumpah ruah menjadi bumbu dalam hidupku, yang aku yakini akan menjadi kekuatan tersendiri untuk berjalan melewati hari esok.

Dan aku tetap berharap, Tuhan tidak meninggalkan aku. Dan aku tetap yakin, itu janji-Mu kepadaku dan kepada semua orang yang percaya kepada-Mu.

Cukupkan untuk kami, lebihkan untuk yang lain.
Itu saja doaku hari ini.

Senin, 17 Agustus 2015 0 komentar

17 08 1945 - 17 08 2015



Hari ini, adalah hari peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. Dan pada hari ini pula, aku niatkan hati dan langkahku menuju Balaikota Malang, untuk mengikuti upacara  bendera meskipun tidak secara langsung. Ditemani istriku yang selalu setia menemaniku dan kamera yang senantiasa kubawa, aku berjalan-jalan diseputaran Tugu Malang, menunggu detik-detik upacara.

Masyarakat tumpah ruah, memenuhi sekitar Tugu Malang, mulai dari anak-anak hingga orang tua, semua seakan tak ingin melewatkan acara hari ini.

Tepat pukul 10.00, upacara dimulai. Satu persatu rangkaian acara dijalani. Hingga tiba saatnya pengibaran bendera Merah Putih, inilah awal ceritaku.

Dengan lirih, kulantunkan lagu Kebangsaanku, menyeruak rasa bangga menjadi bagian dari Bangsa Indonesia, menyeruak rasa bangga memiliki lagi Kebangsaan yang memompa jantungku
Kamis, 13 Agustus 2015 0 komentar

I R I = i r i

Aku iri kepadamu
Bahkan Tuhan pun berjanji untuk merawatmu, meskipun kau tidak menanam dan tidak menuai.

Aku iri kepadamu
Sekali menarik nafas, kau bisa bebas, dan tak ada yang akan menghalangimu untuk terbang, menangkap angin, merasakan lembutnya awan putih

Aku iri kepadamu
Banyak yang bisa kau lihat dari atas sana, bukan cuma warna-warni tembok yang sama setiap hari

Aku iri kepadamu
Karena teman-temanmu, saudara-saudaramu datang saat kau butuh bantuan, bahkan saat kau belajar untuk pertama kalinya mengepakkan sayapmu

Aku iri kepadamu
Meskipun kau punya kemungkinan untuk diburu, dimangsa, namun sesamamu selalu menemanimu hingga detik terakhirmu

Namun aku tidak iri kepadamu, karena aku punya cinta yang besar kepada Tuhanku. Kepada istriku, kepada anakku. Aku hanya perlu sabar menunggu, sampai mereka tahu, bahwa aku punya cinta.
Aku hanya perlu sabar menunggu, sampai mereka datang kepadaku. Seperti teman-temanmu.

Senin, 08 Juni 2015 0 komentar

Pembaca Setia

Tak kukira, bahwa aku memiliki seorang pembaca setia, yang senantiasa melihat blog-ku ini. Bahkan dia mengambil kesimpulan tentangku berkaitan dengan jumlah tulisan yang ada di blogku, setiap tahun, setiap bulan dan setiap harinya. Hehehe, senang juga ada yang mengikuti tulisanku, dan lebih senang lagi karena kadang dibagikan kepada orang lain yang menimbulkan efek berbeda-beda. Mulai tertawa, mulai tertantang, mengernyitkan dahi, mungkin juga ada yang "misuh-misuh" meskipun dalam hati, heheheh :) .. apapun itu terima kasih.

Terima kasih untuk jadi pembaca setiaku, terima kasih untuk menjadi pembagi ceritaku agar bisa bermanfaat untuk orang lain dan terima kasih menjadi pendorongku untuk terus berkarya dalam bentuk apapun.

Sebenarnya cukup banyak tulisan yang ingin aku tuangin. Ada ide tentang Indonesia yang bertambah lama, bertambah
Senin, 20 April 2015 0 komentar

Aku .. campur-campur


Hari ini, tanpa aku ketahui sebelumnya, seorang tetanggaku telah dimakamkan. Menurut informasi dari tetangga depan rumahku di Tirtasari Raya, Pak Eddy meninggal tadi malam, dan siang ini baru saja dimakamkan.

Aku marah. Aku menyalahkan siapa saja. Istriku, karena mendengar pengumuman yang meskipun tidak jelas, namun tidak berusaha mencari tahu ataupun memberitahuku.
Dandy, karena berisik dan keluar masuk saat akan banyak orang di luar. Orang tempatku, kenapa kok tidak ada bendera, atau penanda semacam itu. Aku sendiri, kenapa aku kok seperti ini.

Semakin lama aku disini, semakin merasa aku dikucilkan. Aku tidak menyalahkan ketidaktahuan mereka tentang keadaanku, tapi haruskah aku mengalami itu ?
Aku semakin benci tanggal, saat aku dilahirkan. Tanggal saat aku ditolak. Tanggal saat aku dulu tidak diakui. Tanggal saat aku ditutupi dengan kepura-puraan. Karena .. jadinya seperti ini.

Pak Eddy, saya tidak punya banyak pengalaman dengan Bapak. Setahu saya, bapak hanya rajin jalan-jalan pagi keliling perumahan Tirtasari Raya dengan bertelanjang kaki. Bapak pemain Bass, dan bapak ramah. Meskipun kita hanya sempat bercakap-cakap untuk sesaat, namun saya berterima kasih, karena bapak tidak menghakimi saya, seperti yang lain.
Selamat jalan Pak Eddy. Bapak baik.

Tetangga-tetanggaku di Tirtasari Raya, terima kasih. Semoga Tuhan memberitahu kalian apa yang aku alami.

Rabu, 15 April 2015 0 komentar

Kisah seorang teman - pada suatu senja

Malam belum datang, namun temanku sudah datang. Secangkir kopi dan beberapa buah pisang goreng pun sudah siap tersaji di meja depan teras rumah. Tapi ada yang aneh dengan temanku, mengapa mukanya sangat kusut, seperti belum pernah kena setrikaan. Singkat cerita, setelah habis kopi setengah cangkir dan pisang 5 biji (muka kusut saja habisnya banyak, apalagi muka kenceng ya .. ), dia bercerita.

Begini kisahnya, ...

Temanku ini diminta oleh salah seorang saudaranya untuk membantu pemotretan pre wedding. Karena beberapa bulan ke depan, saudaranya, anggap saja namanya Melati akan menikah dengan pacarnya, anggap saja namanya Bondet :D. Temanku, anggap saja namanya Michael, pun menyanggupinya. Setelah tawar menawar masalah harga, jadwal pemotretan pun disusun, menyesuaikan hari libur Melati dan Bondet. Pemotretan pertama, kedua hingga ketiga pun telah dilalui. Melati meminta Michael untuk membantu juga dalam proses desain undangan pernikahan. Sekali lagi Michael menyanggupi, bahkan dia mencari tempat percetakan yang kebetulan milik temannya juga, dan membantu nego harga mendapat harga yang murah.

Foto beberapa telah selesai diedit, desain undangan juga telah disepakati, harga undangan juga telah sesuai, bagian Michael telah selesai. Tinggal menunggu hari H.

Waktu berlalu, bulan berganti. Kurang 3 bulan lagi. Dan kabar baru datang tanpa disengaja.
Awalnya, Michael iseng main ke rumah Melati. Dengan santai dia menanyakan, kabar Melati dan ajakan untuk memilih foto-foto yang mungkin akan digunakan. Tapi jawaban "sengak" diterima oleh Michael dari Melati. "Gak jadi nikah".
Michael pun hanya terdiam, menganggap semua itu hanya guyonan saja. Namun pada akhirnya dia tahu, bahwa itu bukan guyonan. Dan kejadian itu telah terjadi bulan sebelumnya. Michael kecewa. Kekecewaan dia karena :
1. Dia ini masih saudara, tapi kenapa kok tidak diberitahu diawal-awal saat ada kejadian buruk tersebut.
2. Dia sudah janjian dengan pemilik percetakan untuk segera mem-booking kertas, karena dollar yang terus naik, kuatir harganya akan melonjak bila tidak segera di-booking.
3. Beberapa waktu setelah dia tahu tentang berita tersebut, tidak ada respon sama sekali dari Melati ataupun keluarganya untuk mengajak dia ataupun melibatkan dia dalam proses selanjutnya.

Yah tapi Michael tetap berusaha untuk tersenyum, meskipun hatinya pahit, terutama karena merasa tidak dianggap sebagai saudara. Hanya saat senang saja dia dilibatkan, namun saat susah dia ditinggalkan. Mungkin karena dianggap dia tidak akan bisa membantu apa-apa. Aku tak tahu apa yang dipikirkan keluarga Melati.
Mungkin MALU, itu yang hanya ada dibenak keluarga Melati. Tapi bukankah menurut cerita Michael, Melati hanya korban dari kebusukan Bondet yang tidak bertanggungjawab. Mengapa harus tidak bercerita, agar kesedihannya sama-sama dibantu untuk diselesaikan.

Sekarang Michael sudah lebih tenang, sariawan akibat stress yang dideritanya karena memikirkan hal ini sudah berlalu. Persoalan dengan kawan percetakannya pun juga sudah usai. Namun Michael rupanya masih malas untuk berkomunikasi dengan keluarga Melati. Untuk tahu pun juga sudah mulai malas. Mungkin dia masih menyimpan rasa sedih dan kecewa. Aku tak tahu, karena Michael tidak menceritakannya lebih lanjut.


Hanya kopi dan beberapa biji pisang goreng yang menemaniku sekarang.

Michael telah pergi. Dalam perginya dia sempat bergumam, semoga mereka tahu bahwa aku juga masih saudara mereka.



***
Ini hanya kisah bualan saja, bila ada kesamaan kejadian dan pelaku, hanyalah suatu kebetulan. Jangan dianggap terlalu serius ya :)
Tapi ingatlah, kadang diluar sana, ada yang mau membantu kesusahan kita. Se-susah apapun kita, minimal mereka ada yang mau membantu berdoa, jika merasa tidak bisa berbuat apa-apa. So, hargailah orang-orang seperti mereka itu. Ok Melati, ok Bondet, ingat itu ya.

Senin, 05 Mei 2014 0 komentar

PHK - sambungan dari sebelumnya

Cukup lama aku tidak menulis di halaman blog ini, sekedar untuk menuliskan kegiatanku, pengalamanku ataupun uneg-unegku. salah satu penyebabnya adalah, aku mengalami PHK. Ini kisahku sebelum PHK dan setelah aku di PHK.

Satu pagi.
Salah satu pemilik perusahaan tempat aku ber-aktifitas selama 9 jam dalam sehari, tiba-tiba datang dan memberikan kabar bahwa seluruh karyawan akan di-PHK dengan pesangon sesuai ketentuan. Singkat cerita, ada yang pro dan ada yang kontra. Aku salah satu yang kontra dan tidak mau diberhentikan, dengan alasan masih ingin bekerja. Aku berbicara secara langsung dengan sang pemilik, anggap saja namanya Edi. Namun si Edi tetap bersikukuh menyuruhku untuk menerima PHK, demikian juga dengan beberapa orang yang duduk di sampingnya. Dia berkata, kalau pabrik tidak menerima aku kembali, dia sendiri yang akan menerimaku untuk bekerja.

Pagi selanjutnya.
Senin, 17 Maret 2014 0 komentar

Masa-masa PHK

Beberapa minggu yang lalu, aku lupa kapan tepatnya, salah satu pemilik perusahaan tempatku bekerja berkunjung dan memberikan pengumuman yang membuat semua karyawan kaget. Penawaran untuk PHK, dengan alasan peralihan pemegang saham menjadi pembicaraan di saat itu. Aku yang sedari awal sudah merasakan gejala tidak menyenangkan, hanya bisa berdoa dan berdoa saja. Hingga aku dipanggil ke depan dan mengatakan alasanku untuk tidak mau di-phk. Aku juga sempat mengkonfirmasi permintaanku kepada salah seorang direktur lama yang saat itu hadir. Namun semuanya memintaku untuk ikut phk.

Aku diam.
 
;