Tampilkan postingan dengan label Surat untuk Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat untuk Tuhan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 November 2019 0 komentar

TUHAN, sengaja ....


Beberapa hari, beberapa minggu, mungkin beberapa bulan terakhir ini, ada cukup banyak hal-hal yang aku keluhkan kepada TUHAN. Aku ngomel, aku nggeremeng, aku berkeluh kesah, aku mengadu bahkan aku meminta TUHAN untuk melakukan apa yang aku inginkan.

Dan hari ini, aku menyimpulkan TUHAN itu sengaja. TUHAN sengaja ...

Saat aku menulis ini, aku sedang menonton beberapa cuplikan moment-moment istimewa, mulai dari Golden Buzzer AGT, Indonesian Idol Junior, dan banyak lainnya. Aku melihat bagaimana, mereka yang berjuang, kemudian masuk dalam babak kualifikasi awal, memperoleh sesuatu yang sangat mereka nantikan. Buah dari perjuangan keras mereka, sebelum mereka masuk dalam ajang pemilihan apapun itu. Sangat emosional.

Dan di saat aku sedang menulis ini, aku teringat pada teman-temanku, pada saudara-saudaraku yang sedang berjuang. Berjuang untuk bertahan hidup, berjuang untuk
Sabtu, 24 Desember 2016 0 komentar

24 Desember 2016



Hari ini, mungkin banyak umat Kristen, Kristiani, Nasrani, apapun itu sebutannya, sedang mengikuti ibadah malam Natal, di gereja mereka masing-masing. Dan kebiasaan dari dulu, gereja-gereja tersebut berhiaskan banyak pernak-pernik Natal, lampu, pohon cemara, dan apapun itu yang berkaitan dengan peringatan hari kelahiran Yesus. Nyanyian Natal, musik Natal, makanan Natal, melengkapi perayaan tersebut.

Dan di hari ini pula, aku duduk terdiam, setelah menyelesaikan 1 dari 4 gambar yang harus segera aku selesaikan minggu ini. Dengan rasa sakit di kepala sebelah kiri, aku mulai membayangkan dan mengingat-ingat kembali dari aku kecil hingga saat ini, seperti apa perayaan Natal dari tahun ke tahun aku lewati.

Saat aku masih kecil, aku menjadi pengamat ibadah perayaan Natal, aku melihat aksi panggung yang dilakukan oleh anak-anak yang usianya lebih tua dari aku. Mereka menari, menyanyi, menyemarakkan perayaan Natal di gereja.
Saat aku duduk di bangku SD, aku mulai diikut sertakan oleh orang tuaku, menjadi bagian dari aksi panggung untuk memeriahkan perayaan Natal. Kali ini aku menjadi pemain yang dinikmati oleh orang lain, tapi mereka tidak tahu bagaimana ketegangan demi ketegangan yang kami alami untuk mempersiapkan aksi panggung ini. Aksi panggung yang akan mereka nikmati.
Saat aku mulai beranjak remaja, aku mulai ikut dalam aktifitas persiapan aksi panggung. Ketegangan demi ketegangan muncul kembali. Bukan hanya dirasakan olehku, namun juga oleh teman-temanku, karena mereka hanya ingin ibadahnya sukses, acaranya bagus, panggungnya indah, agar bisa dipergunakan oleh adik-adik remaja dan dinikmati oleh orang-orang tua.
Saat aku mulai menjadi orang tua, aku menikmati semua yang mereka suguhkan. Aksi panggung, acaranya, ibadahnya. Semuanya berjalan dengan baik menurutku, tanpa aku sedikitpun tahu, ada kesulitan apa dibalik semua ini.


Saat aku masih kecil, aku diberi kado oleh saudara-saudaraku yang lain, mulai dari jajanan sampai baju, sebagai hadiah Natal dari mereka. Aku sangat senang melihat banyaknya makanan dan hadiah dari mereka.
Saat aku duduk di bangku SD, hadiah-hadiah tersebut masih ada, namun makanannya mulai berkurang, karena mendahulukan tamu-tamu yang banyak sekali berdatangan ke rumah. Tamu-tamu tampak senang dengan banyaknya makanan yang disuguhkan.
Saat aku mulai beranjak remaja, hadiah-hadiah itu sudah tidak ada lagi. Jajanan-jajanan di masa kecilku pun juga sudah mulai berkurang, entah kenapa.
Saat aku mulai menjadi orang tua, aku menjadi tahu, bahwa apa yang aku alami saat masih kecil, hanyalah sebagian dari tradisi turun temurun, dan bahkan tidak memiliki arti yang lebih dalam, jika aku melihat topeng-topeng yang dikenakan oleh orang-orang disekitarku. Karena setelah hari ini, mereka melalui hari-harinya dengan topeng yang sama.


Saat ini, aku hanya menghela napas panjang, panjang sekali. Aku merenungi kebosananku dengan segala macam perayaan, dengan segala macam hidangan, dengan segala macam tawa dan canda yang berlindung di balik topeng. Hari ini, aku putuskan untuk tidak merayakan Natal di gereja. Aku hanya ingin diam di rumah, dan memikirkan mereka yang tidak bisa merayakan Natal seperti yang dilakukan kebanyakan orang.
Mungkin mereka tidak bisa merayakan Natal, karena sakit, karena tangannya tertancap jarum, karena mereka harus mencari sesuap nasi malam ini untuk orang-orang yang mereka kasihi, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk merayakan Natal, bahkan meskipun hanya untuk menyanyikan lagu Natal di dalam kamar mandi mereka.

Ya Tuhanku, Yesus, yang hari ini sebagian pengikutMu dan orang yang percaya kepadaMu merayakan hari kelahiranMu, hamba teteskan air mata dalam tangkupan tangan hamba, mohon temani mereka yang tidak bisa merayakannya, mohon agar mereka bisa merasakan setitik saja kebahagiaan, mohon agar mereka bisa merasakan hadirMu, bahkan meskipun mereka saat ini sedang berada di tempat pengap dan tak bercahaya. Mereka anak-anakMu Tuhan, mereka orang-orang yang percaya kepadaMu dan menaruh semua harapan mereka kepadaMu. Hamba mohonkan kepadaMu.
Jadikan kami yang sedikit lebih beruntung ini, kepanjangan tanganMu untuk membahagiakan mereka, walaupun hanya untuk beberapa menit. Gerakanlah hati kami yang sedikit lebih beruntung ini, karena bisa berpakaian bagus, bisa beralaskan kaki, yang saat ini sedang menikmati ibadah perayaan Natal untuk membagikan kebahagiaan kepada mereka yang kesulitan. Hamba mohon kepadaMu.




Jumat, 10 Juni 2016 0 komentar

Why God ?

***
Dadaku terasa sesak ya Tuhanku
Karena ketakutanku, karena kekuatiranku akan mual yang mungkin muncul saat aku mengurus SIM

Di saat yang sama, dadaku juga terasa sesak, saat kulantunkan doa untuk temanku Diana Veronica dan Mbak Mia, yang menginginkan hadirnya seorang anak dalam hidup mereka. Dan terus akan kulantunkan doaku ini, sampai sesuatu terjadi, meskipun harus kutahan rasa sesak di dada ini.

Why God ? Aku masih takut dan kuatir dengan mualku, yang selalu kumohon untuk Kau cabut dari akarnya untuk selamanya.
Why God ? Kau belum memberikan mereka anak yang sangat mereka inginkan.

Why ..



***
Hari Minggu lalu, saat aku sedang berjalan-jalan di area CFD, aku melihat seorang anak kecil pengidap hidrocephalus, yang tengah dipangku oleh ayahnya, tergolek tak berdaya. Dengan penuh kasih sayang, sang ayah mencium keningnya. Mungkin ingin menenangkan anaknya, agar bersabar, agar mau menunggu uluran orang yang berbesar hati, untuk merelakan ilmunya, merelakan hartanya, untuk membantu mereka. Mungkin sang Ayah mencium keningnya sambil berbisik, suatu saat nanti engkau akan sembuh anakku, engkau akan bisa berjalan-jalan dan menikmati kegembiraan di tengah lautan manusia yang sibuk dengan kegembiraan mereka sendiri.

Why God ?
Mengapa, aku tidak Kau berikan kepintaran seperti Diana. Mungkin aku bisa menjadi seorang dokter bedah, yang bisa menolong mereka dengan cuma-cuma.

Why God ?
Mengapa, tidak Kau berikan aku kekayaan seperti Pak Tommy Suhendro, sehingga aku bisa membiayai pengobatan mereka hingga tuntas dan mereka bisa merasakan hidup yang layak.

Why God ?
Mengapa, tidak Kau berikan kepadaku setitik kemampuan untuk menolong mereka yang berkesusahan seperti itu ?


And why God ?
Ada yang tidak Kau berikan anak hingga akhir hayat mereka, dan ada yang Kau berikan anak namun dengan kondisi tidak seperti orang pada umumnya.


Why God ? Why ?

Aku tidak tahu, apakah ini pertanyaanku, komplainku atau doaku kepadaMu. Aku tidak tahu, apakah di Sorga sana, Engkau berkenan membaca tulisanku yang carut marut ini. Tapi Tuhan, tolong sekali ini saja. Berkenan menjawab pertanyaanku, komplainku dan doaku kepadaMu.
Jumat, 25 Desember 2015 0 komentar

Sayang aku bukan Tuhan

Hanya karena engkau lupa, engkau menerima bentakan.
Hanya karena engkau bertanya, engkau menerima kata-kata keras.
Hanya karena sudah waktunya makan, engkau harus kaget dari tidurmu.
Hanya karena engkau merasa ada sesuatu yang tidak nyaman, engkau menerima perlakuan yang tidak sepatutnya.

Hanya karena dia capek, engkau harus menerima bentakan.
Hanya karena dia bosan harus menjawab pertanyaanmu, engkau menerima kata-kata keras.
Hanya karena dia harus mengatur waktunya agar semua serba teratur, engkau harus kaget dari tidurmu.
Hanya karena dia merasa semua baik-baik saja padamu, engkau menerima perlakuan yang tidak sepatutnya.


Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku ingin segera memanggilmu, untuk menemaniku.

Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku tahu segala yang engkau lakukan dari masa mudamu, masa saat engkau merawat anak-anakmu dan masa-masa disaat engkau sudah merasa cukup dan lelah.

Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku menyayangimu, sangat menyayangimu dan ingin engkau melepaskan semua beban yang tidak perlu lagi kau tanggung.

Sayang aku bukan Tuhan.
Karena aku ingin sekali menjungkir balikkan orang-orang yang bertopeng dan berkedok.
Karena aku ingin sekali menyobek mulut orang-orang yang tidak menyayangimu dengan tulus, dan melupakan bahwa dulu engkau tulus merawat mereka. Saat mereka merengek, saat mereka menangis, saat mereka sakit ... apapun suka duka yang mereka alami.
Karena aku pastikan untuk menampar mulut mereka yang membuatmu menjadi bahan lelucon.


Tuhan, ampuni aku yang ingin menjadi Engkau, walau untuk sedetik, hanya untuk mengambil orang yang kusayangi, hanya untuk menghancur leburkan orang-orang yang bertopeng. Ampuni aku.

Kini, aku hanya akan melihat. Tetesan apa yang akan keluar nanti saat orang yang kusayangi Kau panggil. Dan aku bersumpah, untuk pertama kalinya, ini akan jadi yang terakhir untuk mereka semua. Ini akan jadi yang terakhir.
Ampuni aku Tuhan, Mohon ampuni aku.
Jumat, 14 Agustus 2015 0 komentar

Engkau alasan selama aku hidup

Bapa jangan tinggalkan aku
Engkau alasan selama aku hidup

Yesus pegang tanganku
Jangan tinggalkan aku
Jangan tinggalkan Aning
Jangan tinggalkan Dandy

Engkau tahu, aku tidak akan bisa hidup diluar kasihMu

Kuatkanlah hati Aning
Kuatkanlah hati Dandy
Untuk bisa tetap menemaniku yang seperti ini
Untuk bisa melewati setiap persoalan bersama-sama

Engkau tahu, aku tidak akan berhenti berharap kepadaMu

Terima kasih .. hamba boleh tenang
Kalau boleh, nanti sore pun, hari Minggu juga hamba tetap tenang


Rabu, 19 Februari 2014 0 komentar

Kapalku

Pagi ini aku sedang duduk di dalam perahuku, yang telah merapat di sebuah dermaga selama beberapa hari ini. Sejauh mata memandang terlukis indah karya Sang Pencipta, membuatku memutuskan untuk terus berlabuh di dermaga ini. Ombak kecil bergulung dengan sapuan hangat mentari, memanjakan aku dan seolah menemani saat-saat aku merasakan kedamaian.
Senin, 31 Desember 2012 0 komentar

Catatan akhir Tahun


Ada awalan, biasanya ada akhiran. Ada garis start, biasanya juga diakhiri dengan garis finish. Aku tidak yakin, apakah aku sudah mengawali tahun 2012 ini dengan baik ?? Aku tidak yakin, sudah mengisi sepanjang tahun 2012 ini juga dengan baik. Namun ternyata, beberapa sekon lagi aku harus mengikuti cerita alam, untuk segera mengakhiri tahun 2012 ini. Suka dan duka, tangis dan tawa, pukulan dan belaian, rasanya sudah cukup melengkapiku di sepanjang tahun ini.

Tak banyak harapanku di tahun 2013, namun aku tetap memiliki harapan yang ingin aku lakukan. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama (yang membutuhkan). Semoga ini bukan angan dan khayalan saja.

Namun, bila aku menengok sedikit ke belakang, rasanya aku tidak menutup tahun ini dengan cukup baik. Sori, sedikit aku tumpahkan kekesalanku yah, hehehe :)
Beberapa jam yang lalu, istriku bercerita bagaimana anakku dibuat malu karena perkataan salah seorang adik papa. Dan cerita tersebut sangat membuatku geram, hanya persoalan sepiring nasi untuk sarapan. "Gendeng" ora ? Aku yang merasa diriku tidak lebih baik dari siapapun, karena apa yang aku alami, tidak akan pernah meributkan "sesuatu" yang sebenarnya adalah anugerah Tuhan. Sepiring nasi.
Dan aku juga mempunyai rasa bersalah dan cukup menyesal karena tidak bisa menemani saudaraku yang datang jauh-jauh dari Tangerang, sehingga salah seorang dari mereka merasa bosan dan tidak nyaman selama berada di Malang. Maaf ya dik, jujur aku cuma bingung mau apalagi. Misal kalian tidak menginap di tempat tersebut, mungkin akan lebih mudah buatku.

Ah, tapi sudah. Sudahlah. Sudahilah.

Aku harus menutup album tahun 2012 ini. Aku berdoa dan berkata dalam pikiranku. Tuhan :
1. Ijinkanlah aku merasakan satu mujizat kesembuhan dariMU. Hidup dan matiku ada di tanganMU, tolong sembuhkan pikiranku yang tidak karuan ini.
2. Ijinkanlah aku merasakan satu mujizat kesembuhan dariMU. Hidup dan matiku ada di tanganMU, tolong sembuhkan pikiranku yang tidak karuan ini.
3. Ijinkanlah aku merasakan satu mujizat kesembuhan dariMU. Hidup dan matiku ada di tanganMU, tolong sembuhkan pikiranku yang tidak karuan ini.
4. Mampukan aku untuk lebih mengenal dan mendekat kepadaMU.
5. Ajarkanlah aku kembali, tentang Kasih yang semula.
6. Berikanlah aku jalan untuk memiliki rumah bagi orang-orang yang saat ini tidur di emperan toko.
7. Berikanlah aku jalan untuk memiliki lensa Canon 40mm dan kamera Canon 5D Mark 2, untuk pekerjaanku saat ini. :)
8. Kembalikan rasa humorku.
9. Aku ingin anak dan istriku kembali
10. Jangan buat aku menjadi kaget saat semuanya Engkau kabulkan, buatlah aku bersujud dan bersyukur kepadaMU, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan sepenuh pikiranku.

Terima kasih Tuhan, terima kasih teman-temanku yang hingga saat ini masih membaca tulisanku. Aku tidak tahu berguna atau tidak untuk kalian. Namun aku hanya ingin berbagi, tanpa ingin menghakimi. Aku mencintai kalian semua yang senantiasa memberikan dukungan, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Terima kasih.

Selamat tinggal 2012, selamat datang 2013.

Minggu, 02 September 2012 0 komentar

Percaya = Berharap = Merajuk = Lemah = Dibodohi

Tuhan, aku tahu tidak pantas buatku menulis surat ini kepadamu. Bahkan aku juag tidak benar-benar tahu, apakah di Sorga sana ada komputer seperti di dunia. Tapi aku percaya, Engkau tahu apa yang aku tuliskan. Meskipun aku tidak tahu apakah aku masih pantas.
Tapi aku hanya tahu Engkau saja Tuhanku.

Tuhan, aku memang manusia bodoh, karena kepercayaanku, karena harapanku, karena rajukku, akhirnya aku menjadi lemah dan bisa dibodohi. Apakah ini kehendakmu juga Tuhan ?

Tuhan, beri aku satu kekuatan, satu keberanian, untuk aku melakukannya dan aku bisa mengakhiri kebodohanku di depan manusia.

Tolong Tuhan, aku tidak kuat.
Rabu, 14 Maret 2012 0 komentar

Surat untuk Tuhan - 3

Tuhan, sampai berapa lama aku harus menunggu dan berharap kepadaMu.
Engkau satu-satunya, Tuhan dan Allahku yang aku kenal.
Engkau satu-satunya, tempatku berharap di segala hal.
Engkau satu-satunya.

Aku kangen kepadaMu, Tuhan.
Aku ingin sekali bisa dekat seperti dahulu.
Bukan karena cara-caraku, namun karena anugerahMu, sehingga aku bisa merasa dekat denganMu.

Tuhan, kadangkala aku merasa ingin cepat-cepat Kau panggil,
Senin, 20 Februari 2012 0 komentar

Pagi ini

Pukul 06.00 aku sudah di kantor pagi ini. Aku berdiam diri di dalam ruangan. Kudengarkan alunan lagu dari Jeffry SC. Aku berdoa dalam tangisku. Aku merasa hancur.
Dua kali aku di tegur Tuhan, melalui Renungan Harian (20 Feb 2012) dan melalui lagu yang kudengar. Rasanya bertambah hancur.

Dalam doa, aku minta ampun kepada Tuhan karena kata-kata guyonanku kepada Pak Budi, Direktur Marketing yang dianggap tidak pantas, sehingga aku harus mendapat teguran dari Manager HRD, kakak iparku.
Dalam doa, aku minta Tuhan mengajariku lagi untuk mengekang lidahku.
Dalam doa, aku minta Tuhan memenuhiku
Rabu, 01 Februari 2012 0 komentar

Tuhan, mengapa ? Tuhan, bagaimana ?

Tuhan,
mengapa Kau berikan kepadaku otak yang mempunyai imajinasi yang tinggi ?

Tuhan,
mengapa Kau berikan kepadaku pikiran yang terlampau jauh dan gambaran-gambaran yang selalu berubah setiap saat ?

Tuhan,
mengapa Kau berikan kepadaku perasaan yang terlalu peka dan sangat sensitif ?

Tuhan,
mengapa ?


Tuhan,
bagaimana aku harus mempergunakan otakku dengan berbagai imajinasinya yang tinggi, untuk dapat berguna bagi orang lain dan berguna bagi rencanaMu atas dunia ini ?

Tuhan,
bagaimana aku harus mempergunakan pikiranku yang
Sabtu, 12 November 2011 0 komentar

Surat Untuk Tuhan 2

Tuhan, pagi ini aku berdoa kepadamu, sekali lagi. Dan aku masih belum bisa mengerti apa kehendakMu bagiku. Bahkan aku tidak tahu, bagian mana dari hidupku adalah kehendakMu dan bagian mana dari hidupku adalah keinginanku. Pun juga aku tidak tahu, bagaimana dan kenapa sesuatu hal disebut manusia sebagai kehendakMu.
Maaf Tuhan Yesus, aku tidak bermaksud komplain, cuma aku merasa ada yang ganjil, mungkin bukan denganMu, namun dengan berbagai macam jawaban-jawaban manusia dan berbagai-bagai macam penghakiman manusia atas manusia dan atasMu, Tuhanku. Yang membuat aku semakin bingung.

Engkau ciptakan Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang ada di atas bumi. Engkau memberikan perintah kepada mereka untuk
Sabtu, 21 Mei 2011 0 komentar

Surat Untuk Tuhan

Ya Tuhan, ingin aku bisa merasakan saat-saat dulu aku belum terbelenggu dalam mual, ketakutan, kepanikan, ketidakyakinan, kecemasan, kekuatiran, ketidakpercayaan, ketidaksabaran.

Ya Tuhan, aku teringat saat-saat itu semua, namun aku juga ingat bahwa saat itu aku dicap sombong. Dicap tidak mau bergaul, dicap “kakeyan cangkem”, dicap sebagai orang yang “easy going”, dicap sebagai orang  yang tidak mau memperhatikan orang lain, dicap sebagai orang yang tidak enak untuk diajak berteman.

Ya Tuhan, aku ingat saat SD aku bisa menjadi seorang pemimpin defile baris berbaris saat perlombaan PKS di Surabaya.
0 komentar

Surat Untuk Tuhan 1

Tuhan, terima kasih karena aku Engkau ciptakan. Karena Engkau pulalah, aku bisa menghirup udara segar pada 22 Juli, 32 tahun yang lalu. Maafkan aku Tuhan, karena aku tidak pandai mengucap syukur. Mohon, jangan sakit hati Tuhan, karena di bawah ini, akan banyak sekali komplain-komplainku, yang kadang bisa aku jawab, kadang aku mendapat jawaban dari orang lain dan masih banyak yang belum terjawab. Why ?

Tuhan, kenapa aku harus dikandung saat orang tuaku belum menikah ?
 
;