Aku pernah mendengar suatu teori dari seorang "pakar", tentang cara menilai seseorang, yang bisa dipergunakan untuk apapun keperluannya. Dengan pedoman Obyektif 80% dan Subyektif 20%.
Berharap untuk tidak lagi mengisi kolom "Makian", namun ternyata aku tidak bisa. Entah karena aku emosiku yang sedang carut marut, atau kebencianku, atau dendamku yang tidak terbalaskan, atau sakit hatiku atas perlakuannya terhadap istri dan anakku yang sewenang-wenang, menurut "subyektifitas" cara berpikirku.
Menurut Subyektifitasku yang 20% ... versi negatif ini :
1. Cuma bisa aksi dan gaya saja
>> kamu adalah Rajanya
2. Pembohong
>> kamu adalah terbaik dari yang terbaik
Sekarang aku harus adil dalam "memaki"-mu. Kugunakan Obyektifitasku yang 80% ... versi positif ini :
1. Low profile
>> pasti aku sedang berbohong
2. Suka memberi masukan positif
>> pasti aku sedang berkhayal
3. Penyabar
>> mungkin saat itu aku habis minum antimo 17 biji
4. Penyayang
>> ah, itu cerita orang lain
5. Pendamai
>> kata-katamu sendiri .. dulu. .... Sekarang .. ???
6. Dihormati dan disegani semua orang
>> iya tah ? kok bini-nya ndak ?
7. Pekerja keras
>> wuihhh keras sekali, sampe sering kecapekan dan tertidur
8. Menghargai privasi
>> mbelgedezh
Nah, sudah benar kan komposisiku dalam "memaki"-mu. 80% dan 20%. Aku luapkan emosi dan kemarahanku semalam karena perbuatanmu yang gak sesuai dengan "jati dirimu" yang kamu katakan beberapa hari yang lalu ("aku itu orangnya sangat menghargai privasi"). Aku puaskan untuk memaki-mu dengan lebih cerdas, tidak menyakitimu dan membuatku lumayan plong. Mungkin lebih plong lagi sebenarnya bila aku meminta pembalasan untuk perbuatanmu, tapi .. aku pikir-pikir .. ndak deh. Bukan hak-ku untuk membalas, pun juga untuk meminta. Semua akan berjalan di jalan-Nya.
Akhir kata ... GTH coy, sayang aku harus memaki "Sang Pakar" ...
*** SELESAI ***
NB :
Aku berharap tidak akan menambah isi kolom makian, minimal bila aku terpaksa mengisinya, bukan karena Subyek yang sama. I wish.
Berharap untuk tidak lagi mengisi kolom "Makian", namun ternyata aku tidak bisa. Entah karena aku emosiku yang sedang carut marut, atau kebencianku, atau dendamku yang tidak terbalaskan, atau sakit hatiku atas perlakuannya terhadap istri dan anakku yang sewenang-wenang, menurut "subyektifitas" cara berpikirku.
Menurut Subyektifitasku yang 20% ... versi negatif ini :
1. Cuma bisa aksi dan gaya saja
>> kamu adalah Rajanya
2. Pembohong
>> kamu adalah terbaik dari yang terbaik
Sekarang aku harus adil dalam "memaki"-mu. Kugunakan Obyektifitasku yang 80% ... versi positif ini :
1. Low profile
>> pasti aku sedang berbohong
2. Suka memberi masukan positif
>> pasti aku sedang berkhayal
3. Penyabar
>> mungkin saat itu aku habis minum antimo 17 biji
4. Penyayang
>> ah, itu cerita orang lain
5. Pendamai
>> kata-katamu sendiri .. dulu. .... Sekarang .. ???
6. Dihormati dan disegani semua orang
>> iya tah ? kok bini-nya ndak ?
7. Pekerja keras
>> wuihhh keras sekali, sampe sering kecapekan dan tertidur
8. Menghargai privasi
>> mbelgedezh
Nah, sudah benar kan komposisiku dalam "memaki"-mu. 80% dan 20%. Aku luapkan emosi dan kemarahanku semalam karena perbuatanmu yang gak sesuai dengan "jati dirimu" yang kamu katakan beberapa hari yang lalu ("aku itu orangnya sangat menghargai privasi"). Aku puaskan untuk memaki-mu dengan lebih cerdas, tidak menyakitimu dan membuatku lumayan plong. Mungkin lebih plong lagi sebenarnya bila aku meminta pembalasan untuk perbuatanmu, tapi .. aku pikir-pikir .. ndak deh. Bukan hak-ku untuk membalas, pun juga untuk meminta. Semua akan berjalan di jalan-Nya.
Akhir kata ... GTH coy, sayang aku harus memaki "Sang Pakar" ...
*** SELESAI ***
NB :
Aku berharap tidak akan menambah isi kolom makian, minimal bila aku terpaksa mengisinya, bukan karena Subyek yang sama. I wish.
Mbak dan mbak, terima kasih untuk membuat istriku lepas dari beban yang dipanggulnya selama 13 tahun ini. Maaf, mungkin tidak seharusnya aku tahu tentang cerita-cerita yang kalian minta kepada istriku untuk tidak diceritakan kepadaku. Namun aku "kadung" menyayangi kalian sebagai bagian dari kehidupanku. Mungkin bukan seperti istriku, tapi kalian punya tempat sendiri dalam pikiranku. Kami berdoa untuk kebahagiaan kalian, sendiri atau bersama pasangan.
Beban yang secara tidak langsung kalian lepaskan dari istriku, bukanlah beban yang mudah untuk ditanggung seorang diri. Aku pun berusaha mengambil bagian untuk melepaskan salah satu beban hidupnya, entah caraku benar atau salah, aku cuma ingin melakukan yang terbaik, yang aku tahu. Dan aku berharap, istriku sudah merasakan bahwa aku telah melakukan bagian terbaikku. Karena aku tahu dengan detil,
Beban yang secara tidak langsung kalian lepaskan dari istriku, bukanlah beban yang mudah untuk ditanggung seorang diri. Aku pun berusaha mengambil bagian untuk melepaskan salah satu beban hidupnya, entah caraku benar atau salah, aku cuma ingin melakukan yang terbaik, yang aku tahu. Dan aku berharap, istriku sudah merasakan bahwa aku telah melakukan bagian terbaikku. Karena aku tahu dengan detil,
Aku tidak pernah benar-benar serius atau senang dengan olahraga apapun yang berbau kompetisi. Bagiku, mendaki gunung dan berbagai kegiatan alam lainnya adalah olahraga terbaik untuk diriku. Badminton aku pernah mengikutinya, namun aku tidak cocok. Entah karena aku kurang merasakan manfaatnya, atau karena olah raga yang aku gagas pertama kali untuk diadakan di pabrik setelah pulang kerja (untuk teman-teman Disroom) telah berubah haluan, dari fun menjadi faaaannnn.
Terakhir aku mencoba pingpong, atau tenis meja. Dan aku juga merasakan ... ini bukan olah raga yang sesuai. Tapi untuk mencari keringat dan membuang sumpek, oke lah. Tak terasa sudah cukup lama aku melakukannya. Disinilah aku menemukan suatu pelajaran hidup untukku. Berharga untukku, mungkin berharga juga untukmu :)
Sekilas info, dalam setiap permainan pingpong yang aku lakukan, hampir selalu berganti-ganti pasangan. Kadang pasangan hari ini, bisa jadi lawan hari esok. Peraturan permainan simple, yang menang boleh main terus. Jadi bila sudah 2 set menang, dia boleh terus main dengan lawan yang berbeda.
Ini pelajaran hidup yang aku rasakan di meja kotak :
Terakhir aku mencoba pingpong, atau tenis meja. Dan aku juga merasakan ... ini bukan olah raga yang sesuai. Tapi untuk mencari keringat dan membuang sumpek, oke lah. Tak terasa sudah cukup lama aku melakukannya. Disinilah aku menemukan suatu pelajaran hidup untukku. Berharga untukku, mungkin berharga juga untukmu :)
Sekilas info, dalam setiap permainan pingpong yang aku lakukan, hampir selalu berganti-ganti pasangan. Kadang pasangan hari ini, bisa jadi lawan hari esok. Peraturan permainan simple, yang menang boleh main terus. Jadi bila sudah 2 set menang, dia boleh terus main dengan lawan yang berbeda.
Ini pelajaran hidup yang aku rasakan di meja kotak :
Sebelum aku mati ... aku harap, dan aku sangat berharap bisa melakukannya :
1. Melihat istri dan anakku tertawa terbahak-bahak hingga menangis
2. Melihat rumah kami dipenuhi kedamaian dan keceriaan
3. Melihat anjing kami tumbuh dengan sehat
4. Membeli sebuah mobil untuk Komisi Anak di Gereja
5. Mengajak jalan-jalan Bapak dan Ibu
6. Melihat keluargaku di Mawar berbahagia dalam hal paling sederhana sekalipun
7. Membuat tempat tinggal yang baik dan sehat untuk orang-orang yang tidak punya tempat tinggal, sehingga aku bisa mewujudkan mimpi gilaku
8. Berdoa bersama
9. Makan urap-urap terenak :D
10. Tanpa rasa sakit dan derita, hanya senyum di dalam pelukan orang yang kucintai, istri dan anakku, sebelum aku menutup mata untuk selamanya.
I wish ..
1. Melihat istri dan anakku tertawa terbahak-bahak hingga menangis
2. Melihat rumah kami dipenuhi kedamaian dan keceriaan
3. Melihat anjing kami tumbuh dengan sehat
4. Membeli sebuah mobil untuk Komisi Anak di Gereja
5. Mengajak jalan-jalan Bapak dan Ibu
6. Melihat keluargaku di Mawar berbahagia dalam hal paling sederhana sekalipun
7. Membuat tempat tinggal yang baik dan sehat untuk orang-orang yang tidak punya tempat tinggal, sehingga aku bisa mewujudkan mimpi gilaku
8. Berdoa bersama
9. Makan urap-urap terenak :D
10. Tanpa rasa sakit dan derita, hanya senyum di dalam pelukan orang yang kucintai, istri dan anakku, sebelum aku menutup mata untuk selamanya.
I wish ..
Aku memperoleh istilah ini dari salah seorang kakak, mentor dan aku anggap guru di sisi yang lain. Mungkin berawal dari cerita yang cukup panjang, dan bisa menghabiskan beberapa halaman untuk menuliskannya secara detail. Namun aku ingin menuliskannya dalam pandanganku pribadi, tanpa campur tangan orang lain ataupun paksaan dari pihak manapun .. kayak nulis surat pernyataan wae ya :d
Bad guy, seseorang yang dianggap jelek, buruk dan bahkan mungkin busuk (menurut Chef Juna), sehingga orang lain merasa kurang nyaman berada di dekatnya. Bukan karena baunya, tapi lebih kepada apa yang diperbuatnya yang menyentuh semua orang di sekelilingnya.
Good guy, pasti kebalikan dari bad guy. Hehehe, masa perlu dituliskan ulang sih :p
Kadang, aku merasa, diriku adalah sosok yang bad guy. Tidak bisa bergaul, tidak bisa
Bad guy, seseorang yang dianggap jelek, buruk dan bahkan mungkin busuk (menurut Chef Juna), sehingga orang lain merasa kurang nyaman berada di dekatnya. Bukan karena baunya, tapi lebih kepada apa yang diperbuatnya yang menyentuh semua orang di sekelilingnya.
Good guy, pasti kebalikan dari bad guy. Hehehe, masa perlu dituliskan ulang sih :p
Kadang, aku merasa, diriku adalah sosok yang bad guy. Tidak bisa bergaul, tidak bisa
Terkadang, dalam pencapaian akan sesuatu hal, orang menginginkan suatu penghargaan sebagai bukti bahwa dia telah mencapai prestasi tertentu. Piagam, trophy, medali, uang dan berbagai macam bentuk pengakuan lainnya, yang akan mengesahkan dirinya sebagai pemenang.
Namun adakalanya, setelah melakukan pencapaian prestasi tertentu, penghargaan yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atau malahan tidak memperoleh suatu apapun. Istilahnya ... Apeslah :p
Dulu, dulu sekali, aku dan istriku pernah berdiskusi tentang keinginan memiliki anak kedua. Namun aku selalu bersikukuh bahwa aku tidak ingin memiliki anak lagi atau memiliki seorang anak angkat daripada anak kandung. Dan hingga detik ini aku menulis, setelah beberapa minggu yang lalu istriku meneteskan air mata
Namun adakalanya, setelah melakukan pencapaian prestasi tertentu, penghargaan yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atau malahan tidak memperoleh suatu apapun. Istilahnya ... Apeslah :p
Dulu, dulu sekali, aku dan istriku pernah berdiskusi tentang keinginan memiliki anak kedua. Namun aku selalu bersikukuh bahwa aku tidak ingin memiliki anak lagi atau memiliki seorang anak angkat daripada anak kandung. Dan hingga detik ini aku menulis, setelah beberapa minggu yang lalu istriku meneteskan air mata
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact