Rabu, 21 Februari 2018 0 komentar

Sharing

Setelah sekian lama aku tidak menulis, meskipun banyak cuitan di kepalaku, pagi ini aku mulai membuka halaman blog ini dan aku mulai mengingat satu persatu cuitan-cuitan yang terngiang di dalam otakku.
Salah satunya adalah tentang berkat Tuhan, mungkin terisnpirasi renungan harian yang aku baca pagi ini.

Semasa aku masih remaja, tiap malam Minggu, selalu diadakan persekutuan khusus untuk remaja. Yang datang, kurang lebih ya "itu-itu saja" :). Kami selalu bergiliran menjadi MC, atau apapunlah tugas yang bisa dibagikan setiap malam Minggu ini. Dan ada satu momen yang masih kuingat hingga saat ini, ketika salah seorang MC, "yang itu lagi, itu lagi" mulai berkata :

"Sepanjang minggu ini, tentunya kita telah banyak mendapat berkat dari Tuhan. Mungkin ada dari teman-teman yang ingin memberikan kesaksiannya atau sharing untuk kita semua disini ?"

Selasa, 19 Desember 2017 0 komentar

Tujuanku untukmu adalah rencanaNya


Hampir 40 tahun aku hidup di dunia ini. Kata orang, kehidupan seorang pria, akan dimulai saat berusia 40 tahun, jadi secara "kata orang" pula, aku ini masih belum memulai jalan hidup-ku sekalipun. Anggap masih tahap belajar ya. Karena masih belajar, tentunya pengalaman dan jam terbang belumlah banyak dan layak dijadikan contoh.Hal itu juga mempengaruhi caraku melihat sesuatu, menilai sesuatu, dan mungkin menghakimi sesuatu.

Seperti ini contohnya ....

Satu kali ada orang yang berkata kepadaku, setelah bertele-tele dan berpanjang lebar, dia mengatakan  : "Kamu tahu tujuanku untuk kamu ? Tujuanku adalah untuk melatih kamu agar bisa jadi bagus dan itu adalah rencanaNya".

Dengan jam terbang hidupku yang belum banyak, aku mencoba mencerna perkataannya. Yah, karena keterbatasan pengalamanku, aku hanya dapat bergumam :

1. Darimana kamu tahu, kalau yang kamu lakukan itu adalah rencanaNya. Adalah rancanganNya. Darimana ?
Misalkan, aku membunuh keluargamu satu persatu dan kemudian aku balik berkata kepadamu, ini adalah tujuanku untuk melatih kamu agar tabah, dan ini adalah sebagian dari rencana Tuhan.
Bolehkah ???

2. Darimana kamu tahu, kalau yang kamu katakan sebagai bentuk latihan tersebut itu akan jadi yang terbaik untuk aku ? Orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sudahkah kamu melihatnya terlebih dahulu ? Bagaimana jika aku merasakan itu sebagai paksaan, yang aku tidak suka ? Mengapa kamu terus paksakan ?
Misalkan aku mengajak kamu latihan panjat dinding, sedangkan fisikmu tidak cukup kuat atau kamu tidak suka ketinggian, apakah boleh aku memaksamu dan berkata bahwa ini adalah latihan, biar kamu semakin bagus.

3. Darimana aku tahu tujuanmu untuk aku ? Wong kamu tidak pernah mengatakannya. Emangnya aku sakti. Dan terlebih lagi, bagaimana aku bisa tahu tujuanmu, "lha wong" aku melihat kamu saja seperti sosok yang tanpa tujuan hidup. Tanpa disiplin. Tanpa pola yang jelas. Terombang-ambing tanpa berani mengambil sikap. Apakah karena takut kehilangan "sesuatu" ??



Pengakuan bahwa kamu adalah bagian dari rencanaNya untuk aku, seperti bentuk pengakuan yang berlebihan dan sombong jika itu terucap dari mulutmu. Sori kalau penilaianku jadi mengarah ke penghakiman.
Mengapa aku mengatakan hal tersebut sebagai kesombongan ?????
Coba kamu pikirkan dulu ya, sebelum aku menjawabnya. Hehehehe.









Jawabanku ...


Kata-kata "Tuhan", nama "Tuhan", adalah bentuk objek yang paling mudah diucapkan manusia, manakala dia terbentur pada dinding buntu untuk mencapai tujuannya sendiri. Untuk mencapai keinginan dan ambisi pribadinya.
Berapa banyak perang yang mengatasnamakan "Tuhan" ?
Berapa banyak keributan yang mengatasnamakan "Tuhan" ?
Berapa banyak demo dan kerusuhan yang mengatasnamakan "Tuhan" ?

Sombong atau tidak, memakai nama Tuhan untuk kepentingan diri sendiri ? Seolah kamu adalah manusia yang paling baik diantara lainnya. Seolah, hanya kepadamulah Tuhan itu berkarya. Seolah, Tuhan itu tahunya cuma kamu. Dan parahnya lagi, seolah Tuhan itu butuh kamu saja untuk melakukan rencanaNya.

Sori, aku mengkritik kamu dan kaum Kristen lainnya, karena dari kamu dan merekalah, aku paling sering melihat, mendengar hal-hal yang berbau "Tuhan" dijadikan semacam pedang untuk menghabisi siapa saja yang tidak sejalan dengan cara berpikirnya. Dan saat pedang itu sudah menghabisi semua orang yang tidak sejalan, kamu dengan enteng berkata, "itu rencana Tuhan".


Tuhan mungkin memang mau siapapun untuk berkembang dan menjadi baik untuk sesamanya, tapi siapakah yang layak dipakai untuk mengembangkan dan menjadikan orang lain menjadi baik ?
Siapakah manusia yang layak dan pantas mengatakan "aku dipakai Tuhan untuk menghardik manusia lain" ?
Yang layak, mungkin hanya Tuhan yang tahu. Aku, kamu dan siapapun itu, pasti tidak akan pernah tahu.

Semoga kamu memperoleh pencerahan dan tahu cara menghargai orang lain, tanpa membawa nama Tuhan. Karena saat aku ataupun orang lain kamu hargai dengan baik, ... kami tidak mungkin lupa mengucap syukur sama Tuhan, tanpa harus kamu ingatkan. Dan bisa jadi Tuhan mencatat itu sebagai "amal baikmu". Mungkin.

Rabu, 02 Agustus 2017 0 komentar

Bumi itu mungkin kotak

Perdebatan tentang bagaimana bentuk bumi kita yang sesungguhnya, muncul kembali beberapa waktu lalu. Berbagai macam teori dikemukakan oleh masing-masing pihak yang "berseteru". Kukuh memegang teori mereka, berdasarkan analisa dan sumber-sumber keilmuan yang dapat dipercaya. Mulai dari sumber ilmu pasti sampai sumber ilmu agama. Komentar-komentar dari orang yang tahu bagaimana asal-usul perdebatan ini ada, mulai bermunculan. Ditambah dengan komentar-komentar dari orang-orang yang "setengah tahu", dan dibumbui komentar dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa, namun ingin ikut memanaskan suasana. Hanya karena ingin memastikan,
Sabtu, 24 Desember 2016 0 komentar

24 Desember 2016



Hari ini, mungkin banyak umat Kristen, Kristiani, Nasrani, apapun itu sebutannya, sedang mengikuti ibadah malam Natal, di gereja mereka masing-masing. Dan kebiasaan dari dulu, gereja-gereja tersebut berhiaskan banyak pernak-pernik Natal, lampu, pohon cemara, dan apapun itu yang berkaitan dengan peringatan hari kelahiran Yesus. Nyanyian Natal, musik Natal, makanan Natal, melengkapi perayaan tersebut.

Dan di hari ini pula, aku duduk terdiam, setelah menyelesaikan 1 dari 4 gambar yang harus segera aku selesaikan minggu ini. Dengan rasa sakit di kepala sebelah kiri, aku mulai membayangkan dan mengingat-ingat kembali dari aku kecil hingga saat ini, seperti apa perayaan Natal dari tahun ke tahun aku lewati.

Saat aku masih kecil, aku menjadi pengamat ibadah perayaan Natal, aku melihat aksi panggung yang dilakukan oleh anak-anak yang usianya lebih tua dari aku. Mereka menari, menyanyi, menyemarakkan perayaan Natal di gereja.
Saat aku duduk di bangku SD, aku mulai diikut sertakan oleh orang tuaku, menjadi bagian dari aksi panggung untuk memeriahkan perayaan Natal. Kali ini aku menjadi pemain yang dinikmati oleh orang lain, tapi mereka tidak tahu bagaimana ketegangan demi ketegangan yang kami alami untuk mempersiapkan aksi panggung ini. Aksi panggung yang akan mereka nikmati.
Saat aku mulai beranjak remaja, aku mulai ikut dalam aktifitas persiapan aksi panggung. Ketegangan demi ketegangan muncul kembali. Bukan hanya dirasakan olehku, namun juga oleh teman-temanku, karena mereka hanya ingin ibadahnya sukses, acaranya bagus, panggungnya indah, agar bisa dipergunakan oleh adik-adik remaja dan dinikmati oleh orang-orang tua.
Saat aku mulai menjadi orang tua, aku menikmati semua yang mereka suguhkan. Aksi panggung, acaranya, ibadahnya. Semuanya berjalan dengan baik menurutku, tanpa aku sedikitpun tahu, ada kesulitan apa dibalik semua ini.


Saat aku masih kecil, aku diberi kado oleh saudara-saudaraku yang lain, mulai dari jajanan sampai baju, sebagai hadiah Natal dari mereka. Aku sangat senang melihat banyaknya makanan dan hadiah dari mereka.
Saat aku duduk di bangku SD, hadiah-hadiah tersebut masih ada, namun makanannya mulai berkurang, karena mendahulukan tamu-tamu yang banyak sekali berdatangan ke rumah. Tamu-tamu tampak senang dengan banyaknya makanan yang disuguhkan.
Saat aku mulai beranjak remaja, hadiah-hadiah itu sudah tidak ada lagi. Jajanan-jajanan di masa kecilku pun juga sudah mulai berkurang, entah kenapa.
Saat aku mulai menjadi orang tua, aku menjadi tahu, bahwa apa yang aku alami saat masih kecil, hanyalah sebagian dari tradisi turun temurun, dan bahkan tidak memiliki arti yang lebih dalam, jika aku melihat topeng-topeng yang dikenakan oleh orang-orang disekitarku. Karena setelah hari ini, mereka melalui hari-harinya dengan topeng yang sama.


Saat ini, aku hanya menghela napas panjang, panjang sekali. Aku merenungi kebosananku dengan segala macam perayaan, dengan segala macam hidangan, dengan segala macam tawa dan canda yang berlindung di balik topeng. Hari ini, aku putuskan untuk tidak merayakan Natal di gereja. Aku hanya ingin diam di rumah, dan memikirkan mereka yang tidak bisa merayakan Natal seperti yang dilakukan kebanyakan orang.
Mungkin mereka tidak bisa merayakan Natal, karena sakit, karena tangannya tertancap jarum, karena mereka harus mencari sesuap nasi malam ini untuk orang-orang yang mereka kasihi, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk merayakan Natal, bahkan meskipun hanya untuk menyanyikan lagu Natal di dalam kamar mandi mereka.

Ya Tuhanku, Yesus, yang hari ini sebagian pengikutMu dan orang yang percaya kepadaMu merayakan hari kelahiranMu, hamba teteskan air mata dalam tangkupan tangan hamba, mohon temani mereka yang tidak bisa merayakannya, mohon agar mereka bisa merasakan setitik saja kebahagiaan, mohon agar mereka bisa merasakan hadirMu, bahkan meskipun mereka saat ini sedang berada di tempat pengap dan tak bercahaya. Mereka anak-anakMu Tuhan, mereka orang-orang yang percaya kepadaMu dan menaruh semua harapan mereka kepadaMu. Hamba mohonkan kepadaMu.
Jadikan kami yang sedikit lebih beruntung ini, kepanjangan tanganMu untuk membahagiakan mereka, walaupun hanya untuk beberapa menit. Gerakanlah hati kami yang sedikit lebih beruntung ini, karena bisa berpakaian bagus, bisa beralaskan kaki, yang saat ini sedang menikmati ibadah perayaan Natal untuk membagikan kebahagiaan kepada mereka yang kesulitan. Hamba mohon kepadaMu.




Kamis, 03 November 2016 0 komentar

Bahagia itu Sederhana (2)



Lampu mati, ... membuat beberapa pekerjaanku menjadi terhenti. Yang seharusnya melakukan rendering, desain exterior dan tracing beberapa gambar dan stiker motor, tidak bisa aku lakukan. Yah, sudahlah. Mungkin memang aku harus jalan-jalan dulu keluar. Bersama istri, aku menuju warung bakso dan mie ayam solo, tak jauh dari tempat tinggalku. Sambil ngobrol santai dengan bapak penjualnya, aku lewati malam ini. Setelah selesai makan, aku ajak istriku untuk "nyelonong" ke tempat antah berantah, tidak tahu tujuannya, yang penting jalan saja, sambil mencari jalur tembusan baru.

Sekitar 15 menit kami menyusuri jalan yang penuh lubang, pandangan mataku melihat sesuatu yang menarik dan telingaku tergelitik untuk mendengarkan lebih lama, aku berhenti dan duduk di atas motor, sambil menikmati suasana pasar malam. Pasar malam yang sekarang amat sangat jarang sekali. Pasar malam yang tidak mungkin dinikmati penduduk kota, hanya penduduk desa sepertiku saja yang kadang masih bisa menikmatinya. Tak terasa, beberapa kali kami berdua tertawa terbahak-bahak. Tawa yang senang, tawa yang ringan dan ini menjadi kebahagiaanku yang sederhana jilid 2, hanya karena melihat ulah Kartolo CS. Grup lawak yang sudah sangat lama sekali, dari daerah Jawa Timur. Entah tahun berapa, aku terakhir bertemu dengan mereka. Yang aku ingat, saat itu aku menghadiri undangan dari kantor JTV di Surabaya dan berkesempatan bertemu mereka.

Saat ini, tidak ada hal lain yang mengganggu pikiranku, tidak ada hal lain yang membuatku kuatir, tidak ada hal lain yang mengusikku, semuanya menyenangkan. Enteng sekali. Sesederhana itu bahagia. Sederhana seperti penduduk desa yang menikmati tawa bersama dengan suguhan layar tancap, ditemani kopi dan jagung bakar.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini.







Semoga bangsaku, bisa merasakan kebahagiaan yang paling sederhana. Ndak ngeributin penistaan agama, ndak ngeributin pajak, ndak ngeributin pilkada, ndak ngeributin politik, ndak ngeributin Jessica, ndak ngeributin orang lain yang berbeda ... hanya duduk diam, mengucap syukur untuk semua hal sederhana yang kita alami hari ini, setiap hari, selamanya.
Sabtu, 08 Oktober 2016 0 komentar

Catatan September - Oktober

Berita tentang Pilkada mulai bergentayangan di beberapa stasiun televisi, bahkan sepertinya tidak ada gunanya stasiun televisi yang berbeda, karena beritanya sama semua. Mungkin yang membedakan hanyalah, hasil survey yang entah benar atau tidak, di sponsori pula oleh calon kepala daerah yang punya kepentingan untuk menang tentunya. Di tengah-tengah momen pilkada ini, bermunculan cerita-cerita negatif yang bertujuan untuk meng-"kambing hitam"-kan lawan-lawan politiknya. Entah siapa yang membuat, apakah atas perintah calon kepala daerah tersebut, atau atas perintah pendukungnya atau orang iseng yang sengaja ingin memperkeruh suasana di Indonesia, entah apa pula tujuan mereka itu.

Ada cerita tentang salah satu kandidat kepala daerah yang videonya dipotong sedemikian rupa, sehingga menimbulkan opini publik yang berbeda. Entah apa pula maksudnya.
Ada cerita tentang salah satu kandidat kepala daerah yang blusukan ke pemukiman penduduk yang wilayahnya akan digusur oleh kepala daerah yang lama. Entah apa pula maksudnya.

Yah, apapun maksud mereka mereka itu,
Kamis, 18 Agustus 2016 0 komentar

17 Agustus .. lagi

"What, apa, kok bisa si Tukiyem jadi pengibar bendera ? Bukannya kita saja dulu mengajari dia susah sekali ?, terus kakak sendiri kenapa kok tidak pernah kepilih masuk di tim ?", tanya si Badu kepada Kak Roni. Kak Roni menjawab sambil menghela napas panjang, panjangggggggg sekali, "Yah, masuk di tim itu penilaiannya nggak obyektif, subyektif banged dan seperti main feeling untuk melihat orang-orang yang ingin dipilih". "Lihat itu si Mintul", lanjut Kak Roni. "Dia bisa masuk di pasukan 8, keren sekali kan. Sedangkan si Daryo cuma di pasukan 45".
Dan si Badu dengan Kak Roni terlibat percakapan yang sudah tidak bisa aku dengarkan lagi, karena aku sedang melihat dengan seksama dan dalam tempo yang lama, seorang bule dengan hidung yang sangat amat mancung banget hehehehe.
Meskipun otakku sempat memikirkan omongan mereka. Dan otakku mulai membuat medan tempurnya sendiri. "Ngapain lu repot amat mikirin si Tukiyem, si Mintul dan si Daryo, itu kan rejeki mereka bisa berdiri tegak, berbaris rapi menjadi tim pengibar bendera. Kalau lu ga bisa masuk, ya sudah belum rejeki lu. Lu pikirin saja sekarang, bagaimana bikin bendera Indonesia itu bisa berkibar di luar negeri dan lu terlibat di dalamnya, itu kan lebih keren bro. Lah kalau sekarang lu ga ngapa-ngapain, malah ribet ngomongin mereka yang sudah maju duluan, kapan lu bisa maju juga bro. Ayo bro, buang rasa iri, dengki dll dll, ganti dengan semangat untuk berpretasi di bidang lain. Tuhan kagak tidur bro".


Hari ini, sekali lagi aku menceburkan diriku di tengah kerumunan manusia, yang ingin menyaksikan detik-detik Proklamasi dan pengibaran bendera di Kantor Balaikota. Meskipun tidak ada suguhan atraksi yang menarik seperti tahun lalu, namun upacara ini tetap membawa kesan tersendiri untukku. Terlebih lagi saat aku menyanyikan lagu Indonesia Raya. Bener-bener keren. Bahkan banyak orang di depanku yang sigap memberikan penghormatan saat bendera mulai dikibarkan, mulai anak-anak hingga orang-orang tua. Keren sekali.

Berikut foto-foto yang berhasil aku jepret saat itu.


Semua berjubel, semua memberi hormat kepada Sang Merah Putih

Ndak peduli, anak-anak ataupun orang tua

Ahhh, hidungmu mengalihkan duniaku, wakakaka :p

Beda kan .. maksudku warnanya :p

Semangat pak, ... :)
Foto tambahan, aku ikutan lomba .. picture taken by Daniel


 
;