Kadangkala ada rasa tidak tega saat melihat anakku berjuang sendirian. Entah saat dia sedang belajar, ataupun saat dia sedang menghadapi satu persoalan, yang kecil di mataku, tapi mungkin besar untuk seorang Daniel yang masih berusia 11 tahun.
Sering rasa tidak tega itu menghinggapi aku, mulai dari dia masih kecil hingga saat ini. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa mengalami hal tersebut. Aku tidak sedang ingin menengok kehidupanku di masa lampau, namun mau tidak mau hal tersebut sempat melintas di pikiranku.
Apakah Papa dan Mamaku dahulu juga mengalami hal yang sama dengan apa yang aku alami saat ini ?
Aku tidak pernah tahu. Karena mereka tidak pernah mengatakan hal-hal tersebut kepadaku, saat aku kecil dulu.
Sehingga saat aku "gede" ini, aku berkesimpulan, orang tua jaman dulu banyak "jaim-nya" dan mungkin orang tua jaman dulu yakin bahwa mereka lebih benar daripada anak-anaknya. Mungkin kesimpulan yang salah, tapi itu yang bisa aku tuliskan saat ini.
Saat pikiran tidak tegaku kepada Daniel datang, saat itu pula "kadangkala" ada satu rasa penentang yang datang juga.
Rasa penentang itu datang dan berkata, "aku harus membiarkannya menyelesaikan persoalannya, agar dia bisa menjadi anak yang tangguh dan hebat, lebih daripada aku". Dan aku lakukan dengan tetap melihat perkembangan yang dialaminya.
Mungkin di sekolah dia merasa tidak nyaman dengan salah seorang yang sering dikeluhkannya, namun saat dia bercerita, aku dan istriku selalu menyemangatinya. Meyakinkan dia, bahwa dia sudah melakukan tindakan yang tepat.
Aku dan istriku selalu berusaha untuk tidak menghakimi dia apabila tindakan yang dia lakukan, kami rasa kurang tepat.
Tidak jarang aku menceritakan masa-masa kecilku dulu saat seumuran dia. Bagaimana aku bermain, bagaimana aku menghadapi masalah, bagaimana aku belajar, bagaimana aku nakal, aku sakit, aku menangis, dan lain-lain. Hanya untuk menunjukkan kepadanya, sebenarnya masalah kita itu sama, namun cuma berbeda di awal cerita dan akhir ceritanya saja.
Aku tidak ingin dia memandangku, seperti aku dulu memandang orang-orang tua jaman dulu, yang menurutku "serba enak", "serba enteng", "serba tanpa masalah", "serba main perintah", dan masih banyak lagi.
Aku ingin menunjukkan realita kehidupan yang mungkin nantinya akan dialami oleh Daniel.
Dan kembali, di saat-saat seperti itu, aku tidak tega dan tega.
Susah yah :)
Namun keyakinanku untuk berkata "Daniel anak Papa, kamu bisa !", selalu mengiringiku setiap perbincangan kami. Aku yakin, karena kami serahkan dia ke dalam tangan Yesus sendiri.
Terima kasih Yesus, untuk istri dan anakku, Daniel Dandy Denratama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.