Senin, 19 Desember 2011

Natal untuk mereka

Malam ini benar-benar menyenangkan. Ini malam Natal yang selalu dirayakan bersama-sama dengan keluarga dan teman. Selepas ibadah Natal di gereja, semua saling memberi ucapan selamat, bersalaman, cipika cipiki dan bercanda, sambil melepas kangen, karena mungkin telah lama tidak bertemu sebab masing-masing tinggal di kota yang berjauhan. Terasa damai dan menyenangkan. Meskipun udara dingin menusuk tulang, namun tidak cukup mampu mematahkan semangat Natal, seperti kotbah Pendeta saat ibadah.
Namun, semua ini hanya kebahagiaan sesaat.
Hanya bertahan beberapa menit dan kemudian semua akan kembali kepada kehidupannya masing-masing. Dan akan terulang satu tahun kemudian. Di saat yang sama, di malam Natal. Sama, semua serba sama. Tidak ada yang berbeda. Kesenangan yang sama, kebahagiaan yang sama, senyum yang sama, bahkan kepalsuanpun juga sama.

Aku ingin Natal ini berbeda.
Tuhan menciptakan aku berbeda dengan yang lain. Jika aku harus melakukan sesuatu yang sama, kurasa sia-sia Tuhan menciptakan aku, dengan segala kelebihan dan kekuranganku. Natal ini tidak hanya untuk aku. Aku mau, Natal ini juga untuk mereka.
Mereka yang tidak pernah tersentuh dengan kehangatan. Mereka yang selalu kedinginan setiap malam. Mereka yang berkeringat dari pagi hingga malam hari. Mereka yang menjerit dalam nyanyiannya. Mereka yang putus asa dan seperti tak berpengharapan. Mereka yang ingin didengar dan tak ingin dihakimi. Mereka yang menangis hanya untuk sebotol air minum. Mereka semua, yang tidak pernah terpikirkan keberadaan mereka.

Aku yakin Tuhan Yesusku tidak hanya lahir untuk orang yang tertawa merayakan kelahiranNya.
Aku yakin Tuhan Yesusku tidak hanya mau menumpang di rumah mewah, dengan segala perlengkapan mewah.
Aku yakin Tuhan Yesusku tidak sedang lapar untuk mencicipi semua masakan istimewa yang ada di muka bumi ini.
Aku yakin Tuhan Yesusku tidak ingin kelahiranNya di rayakan dengan pesta pora semalam suntuk.
Aku yakin Tuhan Yesusku tidak cuma ingin melihat latihan paduan suara dengan tatanan yang baik untuk di dengar.
Aku yakin Tuhan Yesusku tidak bingung dengan segala pohon Natal dan kerlap kerlip lampu yang menghiasi.

***
(Lha wong, Yesus lahir di kandang domba, tanpa ada kemewahan, tanpa ada orang yang banyak yang tertawa senang melihat kelahiranNya, tanpa ada chef hotel bintang 5 yang memasak untuk para gembala yang datang, tanpa ada pesta pora karena belum ada event organizer, tanpa ada pohon Natal dan lampu Natal karena PLN belum masuk, tanpa ada latihan paduan suara dengan tatanan suara yang dimerdu-merdukan, karena para malaikatlah yang langsung turun bersenandung)

I'm very sure about it.

Dan aku yakin, Tuhan Yesusku ingin semua orang merasakan Natal, yang benar-benar Natal. Natal untuk mereka, Natal untuk semua orang. Bukan Natal yang sama dari tahun ke tahun, untuk kemudian hilang dan lenyap tanpa bekas, di telan roda-roda mobil yang mengantar kepulangan mereka ke kotanya masing-masing.

Apakah ini malam Natal ?
Apakah ini malam Natal untuk mereka ?

Maafkan aku Yesus. Bukan aku tak mau merayakan hari kelahiranMu di Gereja yang hebat dan luar biasa. Namun aku hanya ingin merayakan Natal istimewa ini bersamaMu dan mereka. Aku yakin, Engkau setuju.Bukankah Engkau sendiri lahir di tempat yang sama dengan mereka.
Tuhan Yesus, terima kasih untuk kelahiranMu. Aku berdoa untuk mereka semua, yang karena merekalah Engkau mau dilahirkan di dunia ini. Aku mencintaimu Yesus. Aku senang punya Tuhan seperti Engkau. Selamanya aku milik kepunyaanMu dan Engkau, Tuhan dan Allahku.

"Mereka" .... selamat Natal. Natal ini untuk "mereka".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
;