Pagi, menerima bbm istri, yang memberitahu disuruh pulang cepet nanti, oleh kakaknya, karena akan diajak dinner sebab hari ini ulang tahun Bapak. Ndredeg sedikit. Aku berusaha menghindar dengan mengatakan ada pekerjaan, meng-edit film, yang memang belum selesai hingga saat ini. Namun akhirnya aku katakan, "ok, aku pasti datang". Mungkin karena aku malas saja. Sori ya, lanjutku via bbm.
Tanya kepada kakaknya langsung, dijawab akan ke Ocean Garden. Ndredeg muncul lagi, cepat sekali, langsung membuat perutku sakit, dan memaksaku ke kamar mandi.
Pengen aku balas, ngapain ke OG, apa tidak di rumah saja, bisa doa, dll. Tapi sudahlah, a
ku tidak balas.
Alasanku :
1. Sopo aku ? kok menentukan.
2. Jujur, kadang merasa seperti diperintah, dan aku tidak suka, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk berkata "tidak". Tapi aku berusaha mengerti ...
3. Aku mau coba. Dalam perjalananku ke kamar mandi, aku berkata dalam hati, "Tuhan, hidupku dan aku, adalah milikmu. Kalau aku harus mengalami mual-mual, y wis lah". Dan aku terdiam di kamar mandi.
Saat, aku menulis, aku mendengarkan lagu-lagu JSC, saat ini yang aku dengarkan adalah lagu yang berjudul "Selalu ada jalan".
*** Listrik mati ...
Ketika jalan aku lalui, berputar di padang gurun, Engkaulah yang memelihara hidupku sempurna
Ketika jalan yang kutempuh berujung di sungai dalam. Engkaulah yang memerintahnya, untuk kuseberangi.
Selalu ada jalan, saat seakan tiada jalan. Sebab Tuhan ada di depanku, membuka jalan bagiku.
-- Persis seperti wallpaper di blackberry istriku.
*** Interupsi oleh Direktur Operasional ......
Dalam doaku beberapa malam ini, aku selalu tanya kepada Tuhan, benarkah Tuhan apa yang aku lakukan saat ini ? Jika ini bukan kehendakMu, tolong beritahu aku Tuhan. Aku ingin mendekat kepadaMu, agar kutahu apa isi hatiMu terhadap diriku.
Ada saat aku merasa, doa yang aku panjatkan seakan memantul kembali
Ada saat aku merasa, seakan Engkau diam dan tidak perduli
Ajarkan aku agar tidak membuang iman, jika jawabanMu yang kuperlu tidak segera kudapatkan
Ajarkan aku untuk tidak bersandar kepada pengertianku sendiri, bahkan di dalam setiap usaha-usaha yang aku lakukan untuk .... sembuh.
Hari ini aku menahan air mata menetes di pipiku, karena aku tidak mau sia-sia air mataku. Mungkin kirbatMu sudah terlalu penuh dengan air mataku.Air mata penyesalan, ketakutan, kekuatiran, kemarahan, ketidakpastian, kemuak-an dan kesulitan untuk tetap bisa bertahan ... dalam hidup.
Teriakku dalam hati, "Tuhan apa sebenarnya rencanaMu untuk aku ? Bagaimana mungkin aku bisa menjadi berkat untuk orang lain ? Bagaimana bisa apa yang aku alami jadi pelajaran untuk orang lain dan bukan menjadi bahan cacian dan tertawaan semata ?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.