Rabu, 28 Desember 2011 0 komentar

Maswan

Dia dilahirkan sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Adik-adiknya semua adalah wanita. Sang ayah adalah seorang pensiunan instansi militer. Dulu saat dilahirkan, dia didakwa oleh orang-orang yang merasa dirinya normal, sebagai penyandang Tuna Grahita. Sehingga memaksanya untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa kelas B, khusus untuk anak-anak penyandang Tuna Grahita.

Saat aku masih kecil, dia sering aku goda. Aku bilang, kok mau sih sekolah di SLB. Dan selalu dia jawab, oh ndak apa-apa, itu sekolah biasa.
Selalu demikian jawabannya. Seolah dia telah diprogram
Jumat, 23 Desember 2011 0 komentar

Tanpa judul

Aku tidak tahu arti pengampunan yang sebenarnya. Mungkin aku terlalu bodoh seperti kata mereka dulu membandingkan aku dengan yang lain, atau mungkin aku terlalu munafik dan menganggap semuanya tiada arti. Namun aku tahu satu hal, bahwa Dia telah ada untuk aku, bahkan sebelum aku ada. Dia mau dan selalu mengampuni aku.

Mungkin kamu, mereka dan yang lain tidak akan mau meminta maaf atas apa yang kalian semua lakukan kepadaku. Aku tak hendak mengasihani diriku. Aku tak hendak melihat kalian lagi menyiksa sisa hidupku. Dengan semua sisa kekuatanku dan anugerahNya, aku mengampuni kalian semua. Dan aku mempersilahkan kalian keluar dari sisa hidupku, untuk selamanya. Jangan kembali dan jangan berharap kalian bisa membuatku menderita ... for the rest of my life. Kalian tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk membuatku merasa bersalah, bahkan hingga satu titik kecilpun. Tidak.

Bersama Yesus, aku bisa.
Rabu, 21 Desember 2011 0 komentar

Pribadi yang Nanggung

Kemarin malam aku menerima selembar kertas yang memberitahukan, agar aku dan istriku datang ke kantor kecamatan untuk melakukan pendaftaran E-KTP. Satu hal yang sudah aku dengar dari berita di koran dan juga dari salah seorang teman yang sudah melakukannya terlebih dahulu. Malam itu juga aku putuskan untuk tidak menghadirinya. Terlalu banyak alasan yang benar-benar timbul dari hatiku, maupun alasan yang mungkin aku buat di saat-saat sebelum undangan ini datang.

Aku masih merasa tidak pas untuk datang di tempat-tempat seperti itu. Rasanya trauma itu masih saja menghantuiku, kemanapun aku pergi. Dan kemudian alasan-alasan tambahan mulai muncul.
Senin, 19 Desember 2011 0 komentar

Natal untuk mereka

Malam ini benar-benar menyenangkan. Ini malam Natal yang selalu dirayakan bersama-sama dengan keluarga dan teman. Selepas ibadah Natal di gereja, semua saling memberi ucapan selamat, bersalaman, cipika cipiki dan bercanda, sambil melepas kangen, karena mungkin telah lama tidak bertemu sebab masing-masing tinggal di kota yang berjauhan. Terasa damai dan menyenangkan. Meskipun udara dingin menusuk tulang, namun tidak cukup mampu mematahkan semangat Natal, seperti kotbah Pendeta saat ibadah.
Namun, semua ini hanya kebahagiaan sesaat.
Rabu, 23 November 2011 0 komentar

Jalan mbulet

Malam sudah turun dan menggantikan sore. Cukup larut Tanto dan Yahya pulang dari sekolah, usai mengerjakan beberapa tugas OSIS untuk esok hari. Di tengah jalan, tiba-tiba Tanto terdiam. Dia menarik tangan Yahya sambil berkata, "Rasanya aku harus pulang lewat jalan lain, tidak mungkin aku lewat jalan yang biasanya aku lalui." Terlihat kecemasan di wajah Tanto.
"Ada apa ? Mengapa kamu terlihat takut ?" tanya Yahya kemudian, sambil menenangkan temannya.
"Jalan yang biasa aku lalui bila malam hari, selalu banyak anak-anak nakal yang mabuk-mabukan. Aku tidak senang kepada mereka, karena mereka selalu meminta uang dan tidak segan-segan menyakiti siapapun juga yang lewat," jelas Tanto yang masih terlihat ketakutan.
"Namun jika aku harus berputar lewat kuburan, jalannya penuh lubang dan gelap sekali. Bukan aku takut, namun sulit sekali buatku untuk melihat di kegelapan," lanjut Tanto.
"Hmm, kamu tenang saja. Lebih baik aku temani kamu lewat kuburan. Kebetulan aku membawa handphoneku dilengkapi dengan senter. Meskipun kecil tapi cukup terang. Bagaimana ?" kata Yahya sambil tersenyum untuk menenangkan sahabatnya tersebut.
Tanto terlihat senang mendengar perkataan Yahya. "Wah, untung aku pulang bersama kamu. Terima kasih ya," kata Tanto penuh senyum.

Jalan yang akan mereka tempuh kemudian adalah jalan yang lebih jauh, berputar dan
Selasa, 22 November 2011 0 komentar

Utang yang tak bisa terlunasi

Dengan tergopoh-gopoh dan keringat bercucuran Andri berlari menuju ruang kerja temannya, Todar.
"Todar, tolong aku. Aku butuh uang segera", kata Andri sambil terengah-engah dan nafas tak beraturan.
"Hei, tenang bung. Pelan-pelan. Easy man, easy," sahut Todar sambil berdiri dari kursi yang didudukinya seraya menghampiri Andri.
"Bagaimana aku bisa tenang, beberapa debt collector telah mendatangi rumahku. Istriku sampai ketakutan. Tolong aku Todar, tolong", kata Andri.
"Hmm, kalau boleh tahu, berapa hutangmu pada mereka ?" tanya Todar.
"Itulah, aku salah memang. Aku terlalu banyak berhutang," jawab Andri dengan wajah yang putus asa.
"Iya, banyak sih banyak, tapi berapa ? Yang jelas lah kau, macam politikus saja mbulet ndak jelas," kata Todar kemudian.
"Aku punya hutang di beberapa bank, lewat kartu kredit yang aku gunakan. Ada 4 kartu kredit, masing-masing sudah tembus 3 juta. Lalu aku berhutang lewat temanku ke koperasi, 7 juta. Dan istriku berhutang 30 juta ke bank. Ahhh, tolong aku Todar. Aku benar-benar bingung ini." keluh Andri.
"Hahhh ? Kamu hutang sebanyak itu ? Berapa gajian kau ini per bulan ? Gila kau ini ! Sampai tua, juga tidak akan bisa kau lunasi hutang kau ini."
Rabu, 16 November 2011 0 komentar

Drakula Emosi

Judul tulisan ini terinspirasi dari sebuah audio karya Anthony Dio Martin, Vampire Emotion. Di dalam audio tersebut, beliau menjelaskan secara gamblang tentang keberadaan orang-orang yang bisa menjadi pemicu terjadinya konflik emosi di dalam diri kita, atau bahkan diri kita sendiri yang secara tidak sadar telah menjadi penyedot emosi bagi orang lain. Hal ini mudah terjadi karena kita tidak hidup sendiri di muka bumi ini.
Dan boleh percaya, boleh tidak percaya, tapi harus percaya .... saya mengalaminya dan sedang belajar untuk mengelolanya. Dan saya berani katakan, ini adalah proses yang sulit bagi orang-orang seperti saya. Mungkin tidak bagi Anda :)

Dalam kehidupan pekerjaan saya, tidak mungkin bagi saya untuk mengatur ritme orang-orang yang lalu lalang di sekitar saya. Tidak mungkin juga bagi saya untuk merubah apapun yang ada di dalam diri mereka yang tidak saya sukai, demikian juga hal itu berlaku untuk saya.
 
;