Pagi ini secara tak sengaja, aku membaca sebuah selebaran yang dibagikan oleh RT tempatku bermukim, Sukun Tirtasari. Kertas selebaran tersebut ada di atas mejaku, istriku yang mengambilnya dari pagar rumah kami. Setelah aku membacanya, pikiranku terasa berat, rasa sesak mulai menghinggapi. Beberapa hal yang disebutkan di selebaran tersebut membuatku merasa bersalah. 2 poin yang membuatku merasa bersalah adalah teguran untuk hadir di setiap rapat yang diadakan dan tentang peliharaanku.
Mungkin istriku membaca kebingungan dan kegelisahanku, sehingga dia spontan berkata, "Tahu gitu, tak sobek kertas ini tadi, biar papa tidak tahu". Aku tidak kuasa menahan rasa sesak tersebut. Aku benar-benar merasa bersalah. Sudah cukup lama aku tinggal di Perumahan Sukun Tirtasari tersebut, namun karena "masalahku", aku tidak bisa hadir di setiap rapat mereka. Dan kini masalah tersebut bertambah karena hewan peliharaanku.
Pak RT Sukun Tirtasari, Pak Yoses, saya meminta maaf untuk
Kawan 1 ....
Sedikit banyak aku mengenal dunia fotografi juga darimu. Darimu juga aku mengenal dasar dari diagfragma, dengan ilmu raket nyamukmu. Darimu aku jadi bisa melihat seperti apa studio foto yang hebat itu, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Darimu juga aku bisa melihat seperti apa kesibukan yang terjadi di dalam ruang kerjamu. Darimu juga aku mengenal beberapa orang temanmu yang sudah lebih dahulu terjun di dunia foto. Darimu pula, aku belajar bagaimana seorang editor itu harus bekerja secara maksimal dan sempurna.
Darimu, aku tahu kamera apa yang sedang tren saat itu. Sehingga aku memutuskan, aku harus bisa membeli kamera cadangan seperti yang kau miliki, karena aku ingin hasil fotoku mirip dengan hasil fotomu, meskipun itu rasanya "mekso". Dan suatu hari kemudian aku pun bisa membeli kamera Canon EOS 400D.
Bukan aku tidak mau datang ke tempatmu, karena aku sudah tidak membutuhkanmu ...
Bukan aku tidak mau main ke tempatmu, karena aku merasa sudah bisa ...
Bukan aku tidak mau menghubungimu, karena aku ....
Aku cuma tidak mau kamu tahu apa yang sedang aku alami saat ini. Aku hanya tidak mau kamu tahu, bahwa aku sudah tidak seperti dulu lagi, karena .... kehancuranku.
Jujur, aku ada rasa kangen melihat senyumanmu.
Sedikit banyak aku mengenal dunia fotografi juga darimu. Darimu juga aku mengenal dasar dari diagfragma, dengan ilmu raket nyamukmu. Darimu aku jadi bisa melihat seperti apa studio foto yang hebat itu, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Darimu juga aku bisa melihat seperti apa kesibukan yang terjadi di dalam ruang kerjamu. Darimu juga aku mengenal beberapa orang temanmu yang sudah lebih dahulu terjun di dunia foto. Darimu pula, aku belajar bagaimana seorang editor itu harus bekerja secara maksimal dan sempurna.
Darimu, aku tahu kamera apa yang sedang tren saat itu. Sehingga aku memutuskan, aku harus bisa membeli kamera cadangan seperti yang kau miliki, karena aku ingin hasil fotoku mirip dengan hasil fotomu, meskipun itu rasanya "mekso". Dan suatu hari kemudian aku pun bisa membeli kamera Canon EOS 400D.
Bukan aku tidak mau datang ke tempatmu, karena aku sudah tidak membutuhkanmu ...
Bukan aku tidak mau main ke tempatmu, karena aku merasa sudah bisa ...
Bukan aku tidak mau menghubungimu, karena aku ....
Aku cuma tidak mau kamu tahu apa yang sedang aku alami saat ini. Aku hanya tidak mau kamu tahu, bahwa aku sudah tidak seperti dulu lagi, karena .... kehancuranku.
Jujur, aku ada rasa kangen melihat senyumanmu.
Pagi, menerima bbm istri, yang memberitahu disuruh pulang cepet nanti, oleh kakaknya, karena akan diajak dinner sebab hari ini ulang tahun Bapak. Ndredeg sedikit. Aku berusaha menghindar dengan mengatakan ada pekerjaan, meng-edit film, yang memang belum selesai hingga saat ini. Namun akhirnya aku katakan, "ok, aku pasti datang". Mungkin karena aku malas saja. Sori ya, lanjutku via bbm.
Tanya kepada kakaknya langsung, dijawab akan ke Ocean Garden. Ndredeg muncul lagi, cepat sekali, langsung membuat perutku sakit, dan memaksaku ke kamar mandi.
Pengen aku balas, ngapain ke OG, apa tidak di rumah saja, bisa doa, dll. Tapi sudahlah, a
Tanya kepada kakaknya langsung, dijawab akan ke Ocean Garden. Ndredeg muncul lagi, cepat sekali, langsung membuat perutku sakit, dan memaksaku ke kamar mandi.
Pengen aku balas, ngapain ke OG, apa tidak di rumah saja, bisa doa, dll. Tapi sudahlah, a
Kemarin siang aku membaca salah satu tulisan dari Anthony Dio, yang dikirimkan oleh temanku. Ceritanya tentang TELUR. Yah tentang telur, namun bukan tentang duluan mana .. telur atau anak ayam ? Hehehe.
Rangkuman tulisan dia, yang coba aku uraikan dalam bahasaku adalah sebuah telur yang berisi anak ayam, akan mengalami kerusakan bila dipecahkan dari luar. Namun bila dipecahkan dari dalam, dia akan memiliki kehidupan.
Hmm, masuk akal menurutku. Kalau si anak ayam yang memecahkan cangkang telurnya, bukankah dia berarti sudah cukup kuat untuk menikmati hidup diluar kulit telur yang selama beberapa waktu melindunginya. Mungkin dia mengumpulkan segenap tenaga, tanpa perlu gaya seperti Satri Baja Hitam, Power Rangers atau apalah, tapi cukup tenaga untuk mematuk kulit telur tersebut, dan whooppss ... keluarlah si anak ayam.
Namun mungkin akan lain ceritanya bila si induk ayam yang memecahkan telur tersebut atau malah tangan kita "celamitan" dan iseng mecahin kulit telur itu. Yah tujuannya sih membantu biar segera bisa keluar, tapi ternyata malah menghancurkan hidup dia.
Nice story and philosophy Mr. :)
Kemarin malam juga, istriku mendapat bbm dari salah seorang kawannya. Dari ceritanya yang cukup panjang kali lebar kali tinggi, aku memperoleh kesimpulan yang cukup .. cukup membuatku merenung. Satu yang jelas, aku akhirnya menemukan orang yang mirip dengan aku,
Rangkuman tulisan dia, yang coba aku uraikan dalam bahasaku adalah sebuah telur yang berisi anak ayam, akan mengalami kerusakan bila dipecahkan dari luar. Namun bila dipecahkan dari dalam, dia akan memiliki kehidupan.
Hmm, masuk akal menurutku. Kalau si anak ayam yang memecahkan cangkang telurnya, bukankah dia berarti sudah cukup kuat untuk menikmati hidup diluar kulit telur yang selama beberapa waktu melindunginya. Mungkin dia mengumpulkan segenap tenaga, tanpa perlu gaya seperti Satri Baja Hitam, Power Rangers atau apalah, tapi cukup tenaga untuk mematuk kulit telur tersebut, dan whooppss ... keluarlah si anak ayam.
Namun mungkin akan lain ceritanya bila si induk ayam yang memecahkan telur tersebut atau malah tangan kita "celamitan" dan iseng mecahin kulit telur itu. Yah tujuannya sih membantu biar segera bisa keluar, tapi ternyata malah menghancurkan hidup dia.
Nice story and philosophy Mr. :)
Kemarin malam juga, istriku mendapat bbm dari salah seorang kawannya. Dari ceritanya yang cukup panjang kali lebar kali tinggi, aku memperoleh kesimpulan yang cukup .. cukup membuatku merenung. Satu yang jelas, aku akhirnya menemukan orang yang mirip dengan aku,
Kemarin sore, aku menerima BBM istriku yang mengatakan sedang di rumah temannya. Dia disana bersama seorang temannya yang lain. Mereka bertiga (sebenarnya berempat), katanya kawan dekat saat SMP. Saat menerima BBM tersebut, secepat itu muncul perasaan tidak pas, perasaan tidak suka. Dan secepat itu pula aku berusaha menanyakan pada diriku sendiri apa yang membuat aku tidak pas dan kurang begitu suka.
Yang berkelebat di otakku :
1. Kok istriku ndak bilang kalau mau ada rencana ketemuan dengan temannya ? Bukankah dulu sudah pernah ngomong atau mungkin menurutku berkomitmen, untuk ngomong dulu bila ada rencana atau acara apapun, sehingga pihak yang lain bisa menyesuaikan lagi. Jujur saat itu aku merasa tidak dihargai. Dan kemudian setelah sesampainya di rumah, aku bertambah merasa kurang pas, karena ... saat temannya ingin ketemuan dia bisa pulang tepat waktu (tanpa takut matahari siang, panas, dll), tapi kenapa pas giliranku yang ingin dia pulang tepat waktu, selalu saja ada alasan. Entah masih melanjutkan pekerjaan, entah masih silau, dll. Dan aku merasa aku tidak ada istimewa-istimewanya, lalu dengan enteng pula dia berkata ... "kan setiap hari aku ketemu kamu, kalo temanku kan tidak setiap hari".
2. Teringat kata-kata istriku, mungkin aku iri karena aku tidak memiliki teman baik, seperti dia. Jujur, aku hanya takut terjerumus dan menjadi kecanduan, serta sulit melepaskan diri.
3. Kenapa aku harus tidak pas dengan apa yang dilakukan istriku. Bukankah tidak ada masalah
Yang berkelebat di otakku :
1. Kok istriku ndak bilang kalau mau ada rencana ketemuan dengan temannya ? Bukankah dulu sudah pernah ngomong atau mungkin menurutku berkomitmen, untuk ngomong dulu bila ada rencana atau acara apapun, sehingga pihak yang lain bisa menyesuaikan lagi. Jujur saat itu aku merasa tidak dihargai. Dan kemudian setelah sesampainya di rumah, aku bertambah merasa kurang pas, karena ... saat temannya ingin ketemuan dia bisa pulang tepat waktu (tanpa takut matahari siang, panas, dll), tapi kenapa pas giliranku yang ingin dia pulang tepat waktu, selalu saja ada alasan. Entah masih melanjutkan pekerjaan, entah masih silau, dll. Dan aku merasa aku tidak ada istimewa-istimewanya, lalu dengan enteng pula dia berkata ... "kan setiap hari aku ketemu kamu, kalo temanku kan tidak setiap hari".
2. Teringat kata-kata istriku, mungkin aku iri karena aku tidak memiliki teman baik, seperti dia. Jujur, aku hanya takut terjerumus dan menjadi kecanduan, serta sulit melepaskan diri.
3. Kenapa aku harus tidak pas dengan apa yang dilakukan istriku. Bukankah tidak ada masalah
Aku merasa jadi mudah tegang dan terpicu untuk berpikir cepat dan berakhir dengan rasa "ndredeg" yang tidak karuan.
1. Pertunangan Wisnu, adikku. Rasanya sesak sekali untuk membayangkan akan berada di tempat tersebut. Tempat yang tidak nyaman untuk pikiranku. Karena acara tersebut pasti membosankan. Tidak menyenangkan banget untuk aku. Cuma gitu-gitu saja. Itu yang terbayang dan terekam di benakku.
2. Lingkungan tempat tinggalku di Tirtasari Raya. Mungkin semua orang disana sudah menganggapku sombong dan lain sebagainya. Namun tahukah mereka apa yang sebenarnya aku alami dan apa yang sebenarnya aku ingin lakukan. Aku tidak bisa melarang mereka menilai dan men-judge-ku. Semoga mereka bisa mengerti, mengapa aku tidak bisa berkumpul.
3. Kadang saat menghadap Direktur. Masih ada perasaan aneh. Bahkan 2 kali saat aku datang ke rumahnya. Selalu dan selalu mual. Apakah aku tidak bisa menikmatinya ? Apakah aku terlalu sungkan dan tidak enak, apakah karena beliau memperlakukanku dengan amat sangat terhormat ? Meskipun aku hanya anak buahnya. Ndak tahu wis. Kadang aku berharap bisa datang kesana dengan santai. Santai saja. Dan aku bisa menikmati lingkungan rumahnya yang enak.
4. Acara liburan bersama Pak Ivan. Rencana-rencana tersebut cukup membuatku ndredeg juga. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku takut mual ? Mungkin karena aku ... tak tahulah.
5. Memotret anak Febby yang berulang tahun. Dia mengutarakan niatnya untuk meminta tolong kepadaku. Namun aku sudah ndredeg tidak jelas. Benar-benar aneh.
Yang jelas, mual itu ternyata masih ada. TIdak tahu bagaimana caranya, namun dia bisa datang tiba-tiba. Dan yang aku tahu saat ini, dari kakak istriku, mual itu datang saat aku tidak bisa menikmati suatu keadaan.
Lalu bagaimana aku harus mencari cara untuk menikmati suatu keadaan itu ?
Apakah benar hal itu dipicu karena saat aku masih kecil, aku mengalami trauma karena tidak bisa menikmati "paksaan untuk berenang" ? Bagaimana aku harus menghapus trauma tersebut ? Bagaimana aku bisa menikmati masa-masa yang akan datang tanpa rasa mual, tanpa rasa ndredeg, tanpa ada pikiran macam-macam ?
Bagaimana membuang kopi ini dan menggantikannya dengan susu ? Mengapa saat aku mual dan trauma, aku mudah mengingatnya, namun saat aku bisa melakukan sesuatu hal yang pernah membuatku mual, aku tidak bisa mengingatnya sebagai keberhasilanku ? Dan bahwa mual itu sudah tidak ada lagi ....
Tuhan, teman-teman, saudara, ... siapapun yang membaca ini ... tolong aku.
Aku sedih dengan keadaanku saat ini. Aku ingin hidup normal. Normal seperti kalian yang bisa melakukan banyak hal, banyak kebaikan dan lainnya.
Aku hanya ingin hidup normal.
1. Pertunangan Wisnu, adikku. Rasanya sesak sekali untuk membayangkan akan berada di tempat tersebut. Tempat yang tidak nyaman untuk pikiranku. Karena acara tersebut pasti membosankan. Tidak menyenangkan banget untuk aku. Cuma gitu-gitu saja. Itu yang terbayang dan terekam di benakku.
2. Lingkungan tempat tinggalku di Tirtasari Raya. Mungkin semua orang disana sudah menganggapku sombong dan lain sebagainya. Namun tahukah mereka apa yang sebenarnya aku alami dan apa yang sebenarnya aku ingin lakukan. Aku tidak bisa melarang mereka menilai dan men-judge-ku. Semoga mereka bisa mengerti, mengapa aku tidak bisa berkumpul.
3. Kadang saat menghadap Direktur. Masih ada perasaan aneh. Bahkan 2 kali saat aku datang ke rumahnya. Selalu dan selalu mual. Apakah aku tidak bisa menikmatinya ? Apakah aku terlalu sungkan dan tidak enak, apakah karena beliau memperlakukanku dengan amat sangat terhormat ? Meskipun aku hanya anak buahnya. Ndak tahu wis. Kadang aku berharap bisa datang kesana dengan santai. Santai saja. Dan aku bisa menikmati lingkungan rumahnya yang enak.
4. Acara liburan bersama Pak Ivan. Rencana-rencana tersebut cukup membuatku ndredeg juga. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku takut mual ? Mungkin karena aku ... tak tahulah.
5. Memotret anak Febby yang berulang tahun. Dia mengutarakan niatnya untuk meminta tolong kepadaku. Namun aku sudah ndredeg tidak jelas. Benar-benar aneh.
Yang jelas, mual itu ternyata masih ada. TIdak tahu bagaimana caranya, namun dia bisa datang tiba-tiba. Dan yang aku tahu saat ini, dari kakak istriku, mual itu datang saat aku tidak bisa menikmati suatu keadaan.
Lalu bagaimana aku harus mencari cara untuk menikmati suatu keadaan itu ?
Apakah benar hal itu dipicu karena saat aku masih kecil, aku mengalami trauma karena tidak bisa menikmati "paksaan untuk berenang" ? Bagaimana aku harus menghapus trauma tersebut ? Bagaimana aku bisa menikmati masa-masa yang akan datang tanpa rasa mual, tanpa rasa ndredeg, tanpa ada pikiran macam-macam ?
Bagaimana membuang kopi ini dan menggantikannya dengan susu ? Mengapa saat aku mual dan trauma, aku mudah mengingatnya, namun saat aku bisa melakukan sesuatu hal yang pernah membuatku mual, aku tidak bisa mengingatnya sebagai keberhasilanku ? Dan bahwa mual itu sudah tidak ada lagi ....
Tuhan, teman-teman, saudara, ... siapapun yang membaca ini ... tolong aku.
Aku sedih dengan keadaanku saat ini. Aku ingin hidup normal. Normal seperti kalian yang bisa melakukan banyak hal, banyak kebaikan dan lainnya.
Aku hanya ingin hidup normal.
Setelah pergumulanku dan perselisihanku dengan istriku, kami mulai menata tatanan hidup kami kembali. Mungkin lebih tepatnya aku yang menata, karena selama ini aku yang paling berantakan. Berantakan tidak jelas karena pikiranku, karena ketakutanku, karena cintaku dan masih banyak hal lain yang secara cepat silih berganti di otakku. Membentuk cerita-cerita yang tidak beraturan, bahkan terkadang aku tidak bisa mengontrolnya, serta tak jarang pula gambaran tersebut tidak aku kehendaki. Benar-benar tidak jelas, bahkan itu bukan gambaran tentang aku ataupun keluarga maupun orang yang pernah aku kenal.
Aku berharap, istriku akan menarik ucapan tentang "penyesalannya" menikahiku. Namun, aku tidak memiliki jam waktu, yang bisa kembali ke masa lalu. Biarlah itu menjadi catatan dan pelajaran saja bagiku. Dan aku berharap, "penyesalannya" bisa membuatnya bersyukur, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku berterima kasih kepada Tuhan, sebab Dia menunjukkan Aning dan Daniel sebagai istri dan anakku. Karena dari mereka berdualah, aku bisa belajar banyak hal.
Semoga istriku semakin menyayangiku dan tetap mau mendampingiku dalam segala kekurangan yang semakin carut marut tak karuan. Saat aku menulis ini, ada rasa sesak yang sedang aku rasakan. Aku coba mendengarkan lagu dari SKY.FM - Relaxation, namun tak kunjung mereda. Dan akhirnya kuputuskan untuk menulis disini. Berharap datang kelegaan.
Istriku, maafkan aku. Bukan aku hendak mencari perhatian berlebih kepadamu. Namun aku memang sedang dan sering merasa sendiri. Istriku, maafkan aku. Bukan aku hendak menyakiti diriku sendiri, namun saat rasa sesak, kecewa dan lainnya bercampur aduk, aku tak kuasa menahannya. Aku ingin bercerita, namun kadang kau terlalu sibuk di mataku, sehingga tembok menjadi obat yang aku tahu bisa mengalihkan rasa sesakku dan merubahnya menjadi kesakitan yang teramat sangat di tanganku.
Aku sedih dengan diriku sendiri. Aku masih belum bisa menerima keadaan diriku. Aku masih sering tegang menghadapi cerita-cerita, rencana-rencana dan ide-ide yang akan datang. Aku hancur kembali.
Terima kasih istriku.
Aku menyayangimu. Sangat.
Kuberharap semuanya bisa berakhir tanpa menyakitimu. Meskipun kita tidak saling tahu, seberapa dalam rasa sayang dan cinta kita ... satu dengan lainnya. Tapi aku tahu, aku menyayangimu.
Sangat menyayangimu.
Aku berharap, istriku akan menarik ucapan tentang "penyesalannya" menikahiku. Namun, aku tidak memiliki jam waktu, yang bisa kembali ke masa lalu. Biarlah itu menjadi catatan dan pelajaran saja bagiku. Dan aku berharap, "penyesalannya" bisa membuatnya bersyukur, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku berterima kasih kepada Tuhan, sebab Dia menunjukkan Aning dan Daniel sebagai istri dan anakku. Karena dari mereka berdualah, aku bisa belajar banyak hal.
Semoga istriku semakin menyayangiku dan tetap mau mendampingiku dalam segala kekurangan yang semakin carut marut tak karuan. Saat aku menulis ini, ada rasa sesak yang sedang aku rasakan. Aku coba mendengarkan lagu dari SKY.FM - Relaxation, namun tak kunjung mereda. Dan akhirnya kuputuskan untuk menulis disini. Berharap datang kelegaan.
Istriku, maafkan aku. Bukan aku hendak mencari perhatian berlebih kepadamu. Namun aku memang sedang dan sering merasa sendiri. Istriku, maafkan aku. Bukan aku hendak menyakiti diriku sendiri, namun saat rasa sesak, kecewa dan lainnya bercampur aduk, aku tak kuasa menahannya. Aku ingin bercerita, namun kadang kau terlalu sibuk di mataku, sehingga tembok menjadi obat yang aku tahu bisa mengalihkan rasa sesakku dan merubahnya menjadi kesakitan yang teramat sangat di tanganku.
Aku sedih dengan diriku sendiri. Aku masih belum bisa menerima keadaan diriku. Aku masih sering tegang menghadapi cerita-cerita, rencana-rencana dan ide-ide yang akan datang. Aku hancur kembali.
Terima kasih istriku.
Aku menyayangimu. Sangat.
Kuberharap semuanya bisa berakhir tanpa menyakitimu. Meskipun kita tidak saling tahu, seberapa dalam rasa sayang dan cinta kita ... satu dengan lainnya. Tapi aku tahu, aku menyayangimu.
Sangat menyayangimu.
Langganan:
Postingan (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact